Perbaikan Rumah Korban Kebakaran di Dompu Belum Jelas

Korban kebakaran di Dusun Woro Atas, Desa Bakajaya, Dompu, hingga kini menetap di tenda darurat, Jumat,  23 Agustus 2019. (Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Perbaikan rumah korban terdampak kebakaran di Dusun Woro Atas Desa Bakajaya, belum mendapat kepastikan. BPBD dan Disos dinilai saling lempar tanggung jawab. Sementara warga di tengah ketidakpastian itu terpaksa harus menetap di tenda darurat.

Kepala Pelaksana BPBD Dompu, Drs. Imran M. Hasan saat dihubungi Suara NTB usai penyaluran logistik mengaku, tak berani memastikan perbaikan rumah para korban tersebut akan ditangani pihaknya. Sebab di instansinya tak tersedia anggaran yang akan dialokasikan. “Kita tidak berani jamin perbaikannya karena memang tidak tersedia anggaran di kator,” ungkapnya.

Biasanya, lanjut dia, penanggulangan dampak kebakaran rumah semacam ini menjadi tanggung jawab Dinas Sosial (Disos). Sebagaimana tugas pokok dan fungsi yang diemban. Sedangkan BPBD fokus pada penanggulangan kerusakan yang diakibatkan bencana alam seperti banjir, gempa bumi, angin puting beliung dan sebagainya. “Masalah ini harusnya Disos yang bergerak karena itu tupoksinya mereka,” tegasnya.

Terpisah Sekretaris Disos, Abdul Haris, SH., ditemui Jumat,  23 Agustus 2019 mengatakan, atas insiden kebakaran yang telah menghanguskan delapan unit rumah warga tersebut pihaknya sudah menyalurkan bantuan logistik dan perlengkapan tenda darurat. Baik berupa terpal, makanan siap saji serta perabotan rumah tangga lain yang dibutuhkan.

Sedangkan menyangkut perbaikan rumah untuk ditempati

kembali para korban, ditegaskannya, BPBD yang memiliki kewenangan menangani dan mengusulkannya ke pemerintah daerah maupun provinsi. “Kalau Disos kan hanya memberikan bantuan tanggap darurat saja, soal bantuan perbaikan dan sebagainya itu bisa dilakukan oleh BPBD,” tandasnya.

Tak adanya kepastian terkait perbaikan rumah tersebut juga diakui salah seorang korban. Ialah Misbah, pemilik rumah yang menjadi sumber awal percikan api dalam insiden kebakaran itu, Rabu pekan lalu.

Ia mengatakan, semenjak didatangkannya berbagai jenis bantuan oleh beberapa instansi ke tenda darurat belum ada satupun pihak yang menjanjikan perbaikan rumah. Padahal, menurutnya, ini yang jauh lebih penting agar ia dan keluarga bisa kembali menjalani kehidupan dengan normal. “Harapan kami yang paling besar itu ya bagaimana rumah kami bisa kembali dibangun. Karena akibat kebakaran ini tidak ada lagi yang tersisia, bahkan tabungan saya hasil menjual motor Rp10 juta sudah hangus terbakar,” ungkapnya.

Bantuan yang dibutuhkan tak mesti seperti rumah panggungnya yang telah hangus terbakar beberapa waktu lalu. Terpenting yakni bantuan tersebut layak untuk ditempati. Karena untuk mengharapkan modal pribadi dirasa berat apalagi dirinya hanya seorang penjual ikan. “Itupun saya jual punya orang, hanya mengambil upah tiap harinya Rp50 ribu,” pungkasnya. (jun)