BPBD Dompu Berutang Air untuk Atasi Kekeringan

Ilustrasi Air (Suara NTB/pexels)

Dompu (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Dompu sampai saat ini belum menerima bantuan anggaran pendistribusian air bersih ke sejumlah warga terdampak kekeringan. Terutama dari pemerintah provinsi dan pusat. Akibatnya, mereka kini terpaksa harus berutang pembelian air di PDAM untuk disalurkan ke warga.

Kepala Pelaksana BPBD Dompu, Drs. Imran M. Hasan kepada Suara NTB, Selasa, 30 Juli 2019 menjelaskan, dalam penanganan kekeringan di 33 Desa/Kelurahan terdampak saat ini. Pihaknya sudah membangun kerjasama yang baik dengan PDAM. Untuk distribusi air misalnya, mereka diberi keringan untuk membayar di kemudian hari beban pemakaian yang telah disalurkan ke masyarakat.

“Kita ambil dulu saja di PDAM sambil menunggu bantuan anggaran. Tetap dihitung karena jangan sampai mereka nanti bangkrut, apalagi ini perusahaan,” kata dia.

Disamping mendapat keringanan itu, sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan mereka BPBD bahkan diberi harga murah per tangkinya. Hanya saja nominal pasti tak diingat sebagaimana tertuang dalam surat kesepakatan kerjasama yang telah dibuat.

Diakui Imran M. Hasan, bantuan dana dari APBD Dompu untuk pendistribusian air bersih memang ada. Namun mengingat besarannya hanya sekitar Rp20 juta, pemanfaatannya tak bisa merata. Itupun difokuskan bagi wilayah yang betul-betul kesulitan air.

“Kalau kita layani semua permohonan yang datang sehari ini saja habis sisa anggaran itu. Karena kalau kita hitung saja Rp250 ribu satu kali angkut dengan biaya operasionalnya, empat kali kan sudah Rp 1 juta,” jelasnya.

Atas keterbatasan anggaran yang memaksanya harus menghutang pembelian air di PDAM saat ini, ia berharap pemerintah provinsi maupun pusat segera turun tangan. Mengucurkan bantuan dana pendistribusian air agar pembagianya bisa merata di 33 Desa/Kelurahan terdampak. Karena jika melihat kondisi lapangan sekarang makin hari semakin memprihatinkan. Sumur-sumur warga mulai mengering serta air permukan terus mengalami penyusutan.

“Kalau memang ada bantuan itu segera dikucurkan jangan sampai menunggu puncaknya. Jika memungkinkan juga perlu dibarengi tandon penampung,” pungkasnya. (jun)