Cuaca Buruk, Nelayan di Dompu Nekat Melaut

Gelombang tinggi menghantam karang di destinasi wisata Wadu Jao, Minggu,  30 Juni 2019. (Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Gelombang tinggi di sebagian besar wilayah perairan Dompu, masih terus terjadi. Intensitas yang sulit diprediksi membuatnya cukup mengancam keselamatan jiwa. Namun, tidak demikian rupanya bagi sebagian nelayan di pangkalan pendaratan perahu Desa Bara dan Mbawi. Mereka kini nekat melaut karena desakan ekonomi keluarga.

Ahmad misalnya. Nelayan di Dusun Ama Habe Desa Bara ini kepada Suara NTB, Sabtu,  29 Juni 2019 mengaku, sudah dua minggu lebih tak pernah melaut untuk menangkap ikan di perairan Ria. Sebab ketinggian gelombang mencapai 1-3 meter tidak memungkinkan untuk dijelajahi perahu kecil miliknya.

Kendati menyadari cuaca buruk masih terjadi. Ahmad kini mempertaruhkan jiwanya untuk tetap melaut demi menjawab kebutuhan hidup keluarganya. “Tetap kami pantau cuacanya sebelum turun. Tapi sulit karena terkadang gelombang tinggi ini terjadi setelah berada di tengah (laut). Syukurnya selama dua hari ini tidak terjadi apa-apa,” ungkapnya.

Mencari ikan di laut lepas merupakan mata pencaharian satu-satunya lima tahun terakhir. Karenanya, dalam kondisi cuaca apapun Ahmad harus tetap melaut agar istri dan anak-anaknya bisa makan.

Alternatif lain selain menangkap ikan di laut lepas memang ada, misalnya di saluran air payau. Namun karena banyaknya nelayan yang beralih ke sana menurutnya sulit untuk memperoleh ikan banyak. Bahkan tak sedikit ditemukannya merugi lantaran hasil yang diperoleh tak bisa menutupi biaya operasional yang dikeluarkan.

“Syukur kalau ada untung seratus ribu, sesuailah dengan tenaga kita. Tapi rata-rata di sini rugi terkecuali nyarinya di laut lepas,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dialami puluhan nelayan di Desa Mbawi Kecamatan Dompu. Namun, mereka memilih tetap melaut di tengah cuaca buruk ini lantaran desakan ekonomi keluarga.

Seperti disampaikan salah seorang diataranya, Ibrahim pada Minggu,  30 Juni  pagi. Ia mengatakan, gelombang tinggi di wilayah perairan selatan Huu dan Teluk Cempi memang mengacam keselamatan jiwa. Tetapi untuk memperkecil resiko tersebut pihaknya dituntut jeli memperhatikan perkembangan cuaca.

Misalnya, sebelum berangkat mesti dipastikan terlebih dahulu air muara tenang. Baik di waktu pagi, siang maupun malam hari. Kalaupun kemudian menemukan perubahan cuaca seketika ditengah perjalanan atau saat sedang menangkap ikan diupayakannya untuk menepi ke pesisir pantai sekitar lokasi pencarian hingga situasi kembali normal.

“Biasanya begitu cara saya kalau menghadapi cuaca seperti ini, walaupun memang kadang-kadang salah prediksi karena arah angin yang tidak menentu,” jelasnya.

Menangkap ikan di tengah cuaca semacam ini, lanjut dia, memang beresiko tinggi namun bisa memberi keuntungan tersendiri bagi sejumlah nelayan. Sebab pendapatan mereka akan naik lantaran harga jual ikan tinggi di pasaran.

Untuk melihat kondisi nelayan, Suara NTB melakukan pantauan langsung di lapangan, tepatnya di destinasi wisata Wadu Jao Desa Jambu. Angin kencang disertai gelombang tinggi terus bergemuruh menghantam tebing pegunungan. Bahkan lahan pertanian warga sekitar pesisir pantai beberapa meter lagi terjangkau oleh derasnya air laut. Pun terlihat perahu-perahu nelayan sekitar dikeluarkan untuk menghindari kerusakan akibat hantaman gelombang. (jun)