Gagal Panen, Harga Bawang Putih Melonjak

Ilustrasi (Bawang Putih)

Dompu (Suara NTB) – Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kabupaten Dompu, H. Iskandar mengaku, tak menyangka lonjakan harga bawang putih akan berlangsung lama di wilayah ini. Padahal, harga komoditas tersebut di tahun-tahun sebelumnya tidak pernah bergejolak seperti halnya bumbu dapur lain. Gagal panen dan menyempitnya area tanam di daerah pemasok diklaim penyebab utamanya.

“Memang bawang putih ini tidak pernah goyang dia harganya dari dulu. Tapi kemungkinan ini pengaruh gagal panen dan menyempitnya are tanam,” kata menjawab Suara NTB di ruang kerjanya.

Gagal panen dan menyempitnya area tanam jadi pemicu lantaran komoditas ini bukan hasil olahan pabrik. Sehingga harganya sangat bergantung pada hasil panen petani. Soal dugaan adanya penimbunan dibantah tegas Iskandar dengan alasan pengusaha akan mengalami kerugian sendiri jika hal tersebut dilakukan. Karena bawang putih sama seperti komoditas lain yang ketika ditimbun akan rusak atau membusuk.

Selain dua hal tersebut, lanjut dia, pengalihan komoditas tanam di daerah pemasok turut mempengaruhi harga. Seperti halnya di Dompu, dari komoditas andalan berupa mente kini beralih ke tebu dan jagung, sehingga harga mente saat ini terus merangkak naik.

“Tidak ada penimbunan karena ini kebutuhan pokok. Kalau ditimbun akan rugi sendiri. Beda dengan gula dan bensin dia tahan lama jadi sangat mungkin untuk ditimbun oleh pengusaha nakal,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pantau terakhir Disperindag, Harga salah satu komoditas ini masih bertahan Rp40 ribu/Kg dari lonjakan sebelumnya Rp70 ribu/Kg. Kendati menurun namun belum sampai pada harga normalnya Rp25 ribu/Kg.

Tak diketahui pasti hingga kapan persoalan ini terjadi. Layaknya, komoditas lain seperti cabai, bawang mera, tomat dan sejenisnya akan stabil ketika pasokan kembali normal. “Jadi hukum ekonomi yang berlaku disana. Kalau dari kita tidak bisa intervensi karena ini bukan barang subsidi pemerintah,” pungkasnya. (jun)