Gelombang Tinggi, Nelayan Dompu Berhenti Melaut

Sejumlah nelayan di pangkalan pendaratan perahu Ama Habe tak melaut akibat gelombang tinggi, Minggu,  16 Juni 2019. (Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Sudah sepekan terakhir, nelayan di pangkalan pendaratan perahu Dusun Ama Habe Desa Bara, Kabupaten Dompu berhenti melaut. Mereka khawatir akan mengalami kecelakaan karena gelombang tinggi. Hari-hari mereka kini dimanfaatkan untuk memperbaiki perahu dan jaring penangkap ikan.

Salah seorang nelayan, Bunyamin kepada Suara NTB, Minggu,  16 Juni 2019 mengaku, hanya sebagian kecil nelayan yang masih berani melaut. Itupun nelayan tertentu yang memiliki perahu dengan ukuran besar seperti dirinya. Sementara nelayan bermodal perahu kecil sepekan terakhir ini tidak pernah lagi beraktivitas.

“Hampir semua nelayan di sini tidak ada yang melaut. Saya pergi inipun terpaksa karena sudah terlanjur menerima pesanan rumput laut,” ungkapnya.

Dipastikan Bunyamin, selama gelombang tinggi di perairan Ria dan sekitarnya terjadi tak ada pasokan ikan dari puluhan nelayan Ama Habe ke pasaran. Mereka sibuk mengisi waktu luang untuk memberbaiki jaring dan perahu hingga cuca kembali normal.

Dirinya yang memakai perahu besar saja sempat kesulitan berlayar akibat tingginya gelombang. Bahkan di jalur biasa yang cukup ditempuh dengan waktu maksimal empat jam ke lokasi pengambilan rumput laut harus dilaluinya tujuh jam.

“Gelombangnya, (air laut) sampai masuk tapi beruntung saya bawa terpal untuk mengamankan diri dan perahu agar tidak masuk air laut,” jelasnya.

Tak hanya mengancam keselamatan jiwa. Kondisi cuaca saat ini juga berpengaruh besar terhadap hasil melautnya. Yang mana dari biasanya delapan ton ke atas per hari kini berkurang menjadi lima ton.

Dengan berkurangnya hasil pengambilan rumput laut ini, Bunyamin mengaku pendapatan bersihnya setelah dipotong biaya operasional dan buruh hanya Rp150 ribu. “Kalau biasanya, delapan ton ke atas kami bisa bawa pulang uang bersih Rp600-Rp1 juta sehari. Cuma sekarang cuacanya sangat berbahaya. Kalau mau nangkap ikan juga sulit karena tidak mungkin bisa melepas aring,” pungkasnya.

Waspadai Cuaca

Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima, telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di sejumlah wilayah. Termasuk perairan selatan Kabupaten Dompu. Melihat kecepatan angin 25-30 knot saat ini, memungkinkan ketinggian gelombang mencapai 1-3 meter. Karenanya, nelayan dan warga pesisir pantai diminta terus memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Dompu, Drs. Imran M. Hasan kepada Suara NTB, Sabtu (15/6) menegaskan, kondisi cuaca saat ini cukup sulit diperediksi. Terkadang cerah, mendung bahkan gelombang tinggi dan pasang. “Makanya kita terus ingatan nelayan maupun yang menggunakan transportasi laut dan warga pesisir agar selalu waspada. Cuaca ini harus betul-betul diperhatikan,” harap dia.

Pantauan lapangan sepekan terakhir, gelombang setinggi 1-3 meter terjadi di perairan selatan Kecamatan Huu. Bahkan kondisi tersebut sempat membuat nelayan setempat beberapa hari berhenti melaut.

Tak heran, ungkap Imran M. Hasan pasokan ikan ke pasaran saat ini minim dan mahal. “Diperparah lagi karena sekarang sedang bulan purnama sehingga sangat sulit untuk memperoleh ikan bagi nelayan,” ujarnya.

Kendati menyadari kondisi gelombang saat ini mengancam keselamatan nelayan dan warga pesisir pantai. Ia mengaku tak berani menekan nelayan untuk menghetikan sementara aktivitas melautnya. Karena dikhawatirkan BPBD akan jadi sasaran permohonan bantuan untuk keperluan hidup mereka sehari-hari di tengah keterbatasan anggaran.

Untuk itu alternatif terbaik menurutnya ialah meminta setiap warga yang berada dipesisir pantai dan beraktivitas ditengah laut lepas untuk meperhatikan kondisi cuaca. Jika dirasa mengancam mesti segera diputuskan untuk tidak melaut. “Penekanan kita perhatikan saja fenomena alam. Nelayan juga kan sudah cukup paham,” pungkasnya. (jun)