Ekskavasi Situs Dorompana Telusuri Jejak Kesultanan Dompu

Temuan tim peneliti arkeologi tahap II dari Balar di situs Dorompana Kelurahan Kandai Satu Dompu. Diseminasi hasil penelitian arkeologi ekskavasi Situs Dorompana untuk menelusuri jejak masa awal kesultanan Dompu tahap II di hotel Rinjani Dompu, Minggu, 12 Mei 2019. (Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Tim Badan Arkeologi (Balar) Denpasar kembali melanjutkan penelitian arkeologi ekskavasi situs Dorompana untuk menelusuri jejak masa awal Kesultanan Dompu tahap II. Temuan gerabah, kerangka dan sisa arang menunjukan kuburan pra Islam. Hasil penelitian Balar akan ditampilkan di Rumah Peradaban yang menghadirkan siswa, pemerhati budaya dan pemangku kebijakan di Dompu.

Ketua Tim Penelitian Arkeologi situs Dorompana Dompu, Ni Putu Eka Juliawati pada diseminasi hasil penelitian arkeologi ekskavasi Situs Dorompana untuk menelusuri jejak masa awal kesultanan Dompu tahap II di hotel Rinjani Dompu, Minggu, 12 Mei 2019 mengungkapkan, penelitian tahap pertama dilakukan melalui metode ekskavasi menemukan batu dimpa berupa fragmen gerabah, fragmen porselen, fragmen individu rangka manusia, serpih bilah, dan struktur bata dengan bekas terbakar.

Ini menunjukan adanya aktivitas penguburan dan perdagangan atau pertukaran barang oleh masyarakat pendukung situs Dorompana. Temuan porselen asing milik Dinasti Song China di abad X – XIV masehi, dinasti Ming abad XV – XVI masehi, dan dinasti Qing abad XVII-XIX masehi, serta porselen Thailand dan Vietnam menjadi bukti adanya interaksi dengan dunia luar.

Pada penelitian tahap II yang dilakukan sejak 27 April lalu, dikatakan Eka, pihaknya menemukan pecahan gerabah terkonsentrasi yang berasosiasi dengan temuan rangka mengarah pada pemanfaatannya sebagai bekal kubur. Temuan sisa arang pada ekskavasi tahap II ini akan ditindak lanjuti dengan analisis di laboratorium untuk menguatkan temuan.

“Berdasarkan cerita rakyat, Dorompana menjadi tempat istirahat para sultan sebelum ke Doro Parapimpi,” katanya.

Terkait situs Dorobata, dikatakan Eka, pada 17 Juni usai lebaran Idul Fitri akan ada tim dari Balar yang akan melanjutkan penelitiannya. Hasil penelitiannya akan dilakukan desiminasi dan harapan masyarakat Dompu yang ingin melihat kesimpulan dari situs Dorobara akan disampaikan ke tim peneliti.

“Kami sudah diskusikan dengan kepala Balai, pada awal September (2019) nanti kita akan membawa satu dari tiga rumah peradaban sebagai bentuk pertanggungjawaban atas penelitian yang dilakukan sejak tahun 1980an di Dorobata,” katanya.

Rumah peradaban yang direncanakan awal September ini akan menghadirkan pelajar, tokoh masyarakat, Bupati dan pimpinan Dewan. Sehingga hasil penelitian terhadap situs yang ada di Kabupaten Dompu selama ini dapat diketahui generasi muda dan akan ada kebijakan yang berkelanjutan di daerah.

Prof Dr (Phil) I Ketut Ardana sejarawan yang mengkaji tentang Nusa Tengara pada acara desiminasi mengatakan, mendorong generasi muda untuk memulai mencatat dan mengkaji setiap budaya yang menjadi identitas daerahnya. Identitas budaya ini menjadi branding daerah untuk dikenal daerah lain.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, H. Khairul Insan, SE, MM menyampaikan apresiasinya kepada Balai Arkeologi Denpasar yang secara intens melakukan penelitian terhadap situs – situs sejarah Dompu. Situs ini menjadi bukti sejarah tentang kejayaan Dompu di masa lalu.

“Ini juga menjadi kekurangan bagi kami, karena selama ini kami ndak memiliki anggaran untuk secara mandiri melakukan penelitian budaya dan bukti sejarah yang dimiliki daerah. Bahkan kami sangat terbatas dalam mendukung generasi muda dalam melakukan pentas seni dan pagelaran budaya,” ungkapnya.

Desiminasi ini mendapat apresiasi dari para pemerhati budaya di Dompu. ketika sesi tanya jawab dibuka, beberapa diantaranya menyampaikan saran dan masukan soal sejarah Dompu serta usulan terkait replika istana Dompu.

“Soal lahan dan bangunan replika Istana Dompu itu hal yang mudah. Ada banyak sumber yang bisa dimanfaatkan untuk membangun, bukan hanya dari APBD. Bupati sejak 3 tahun lalu meminta kajian secara utuh soal istana, termasuk desain dan isi,” kata Sultan, ketua Gong 2000 (alumni SMA angkatan tahun 2000) yang selama ini dikenal kensen terhadap budaya Dompu.

Tidak hanya Sultan, beberapa tokoh lain juga ikut menceritakan soal sejarah kesultan Dompu. Diantaranya Drs. Sayuti Melik, Drs. H. Asikin Ahmad, Muhammad Nur, M. Iradat, dan bahkan Dra. Nurhaedah kini sedang mempersiapkan buku terkait manuskrip sejarah Dompu. “Saya pesan satu bukunya agar bisa dikomparasikan dengan data di Balai Arkeologi,” kata Eka dari Balar Denpasar. (ula/*)