Perolehan Suara Merosot, Pendukung Caleg di Dompu Diduga Cabut Meteran Listrik Sumur Warga

Warga Dusun Buncu Utara saat mengecek bekas pencabutan meteran sumur dalam, Jumat,  19 April 2019. (Suara NTB/jun)

Dompu (Suara NTB) – Diduga tak terima hasil sementara Pemilu serentak 2019 ini, sejumlah oknum yang diduga pendukung Calon Legislatif DPRD Dompu, Yuliadin, S.Sos, bereaksi. Mereka mencabut kilometer listrik sumur dalam hasil resesnya 2015 lalu. Akibatnya, 105 Kepala Keluarga (KK) di perumahan Dusun Buncu Utara kini tak bisa menikmati air bersih.

Salah seorang warga, Imo Kepada Suara NTB, Jumat,  19 April 2019  mengungkapkan, pencabutan kilometer air dilakukan oknum yang diduga kuat pendukung Yuliadin. Yuliadin yang akrab disapa Bucek, merupakan Caleg petahana yang saat ini menjabat Ketua DPRD Dompu.

Kejadian hilangnya meteran sumur warga ini terjadi tak berselang lama setelah perolehan suara Yuliadin diketahui merosot di Dusun tersebut. Pada Pemilu 2014 lalu, hampir 100 persen pemilih memilihnya sebagai wakil rakyat di DPRD Dompu. Tapi pada Pemilu kali ini, ia hanya mampu memperoleh tujuh suara di Dusun tersebut. “Karena tidak menang di sini, tim-timnya itu datang, cabut itu kilometer air,” ungkapnya.

Warga lain, Hamudin menjelaskan, aksi blokir jalan sebagai reaksi warga yang kecewa lantaran pasokan air dari sumur dalam ini tiba-tiba macet. Setelah diselidiki, ternyata akibat sejumlah oknum yang diduga pendukung Bucek yang mengambil kilometer listriknya. Sehingga air tidak bisa tersalur ke perumahan warga. Aksi oknum-oknum itu pun disaksikan warga setempat.

“Intinya kita sekarang ini (mesin) jalan habis, kita tidak akan ribut lagi,” tegasnya sambil menunjukan bekas kilometer listrik.

Disinggung apakah pencabutan itu imbas dari perolehan suara Bucek yang kecil dan menyempitkan peluangnya lolos dalam pesta demokrasi tahun ini, Hamudin tak ingin mengomentarinya. Terpenting baginya, air dari sumur dalam yang dianggap hasil reses tahun 2015 itu bisa kembali dimanfaatkan masyarakat.

Atas kasus tersebut pihaknya sudah melaporkannya ke Mapolsek Woja dengan dugaan pencurian kilometer tak lama setelah pemblokiran jalan dibubarkan anggota Subden III Detasemen A Polda NTB. “Mau apa saja intinya kita ini hilang meteran kita ribut. Itu saja, masalah pemilihan itu kita tidak mau tahu,” tandasnya.

Sementara itu, Yuliadin caleg nomor urut 2 dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang dikonfirmasi terpisah Suara NTB mengaku, tidak mengetahui adanya reaksi pendukungnya yang mencabut kilometer sumur dalam di atas lahan milik pribadinya itu. Ia juga menegaskan tidak pernah memerintahkan hal tersebut. Dan ditegaskan, sumur dalam tersebut merupakan hasil resesnya selaku Ketua DPRD.

“Yang di atas lahan saya itu hasil reses. Kalaupun ada pendukung saya yang mencabut itu, saya nggak tahu,” pungkasnya. (jun)