PT SMS Ancam Hengkang dari Dompu

Bambang M. Yasin dan Masnil Muhtar (Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Pabrik gula milik PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Doropeti Kecamatan Pekat terancam dipindahkan ke daerah lain karena tebu yang menjadi bahan baku gula makin lama semakin sedikit. Petani setempat yang sebelumnya menanam tebu banyak beralih menanam jagung karena dinilai lebih menguntungkan.

Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin mengungkapkan, terbatasnya petani menanam tebu membuat pihak PT SMS mengancam akan memindahkan pabrik gula tersebut ke daerah lain. Terlebih pemerintah daerah (Pemda) dinilai lebih memprioritaskan jagung dari tebu, padahal kedua produk ini merupakan unggulan daerah.

“PT SMS sekarang bukan lagi marah ke Bupati. Sekarang mengancam akan angkut pabrik ke tempat lain,” kata H. Bambang pada pembukaan Musrembang tahun 2019 untuk RKPD tahun 2020.

Ancaman pihak PT SMS dipicu maraknya peralihan pilihan tanaman petani di Pekat. Dari yang dulunya menanam tebu kini mereka lebih memilih menanam jagung. Kondisi ini sebenarnya bukan salah dirinya. Petani beralih ke tanaman jagung karena jagung lebih cepat menghasilkan uang. Uang produksi jagung hanya 4 bulan dan tebu 8 bulan, walaupun sekali tanam tebu bisa diproduksi hingga 4 kali.

“Ini yang menjadi tantangan kita kedepan. Bagaimana masyarakat pekat mau kembali menanam tebu,” kata H. Bambang.

Beberapa waktu lalu, pihak ITB bersama Kementerian rumpun hijau berkunjung ke Dompu untuk membicarakan pengembangan tebu yang menjadi bahan baku pabrik gula. “Semoga program tahun 2020, (tebu) masuk menjadi salah satu pekerjaan yang kita urus,” harapnya.

Karenanya ia meminta kepada Kementerian untuk mengalokasikan anggaran bagi penyiapan kebun benih tebu, sehingga petani bisa kapan saja menanam tebu karena tersedia benihnya. Masalah benih ini menjadi salah satu alasan, petani beralih ke jagung karena jagung selalu tersedia benihnya.

“Bedanya dengan tebu, orang mau tanam tebu, benihnya tidak ada. Ini menjadi perjuangan kita semua, bagaimana kebun benih tersedia di kabupaten Dompu,” katanya.

Humas PT SMS, H. Masnil Muhtar yang dikonfirmasi mengaku, hingga saat ini pihaknya masih tetap memproduksi gula sesuai izin yang diperoleh yaitu 3 ribu ton per hari. Rencananya, produktivitas ini akan terus dikembangkan sesuai potensi pabrik. Namun ketersedian tebu sebagai bahan baku saat ini masih sangat terbatas.

HGU milik PT SMS, kata H. Masnil seluas 5.500 ha. Tidak semua HGU dikuasai perusahaan dan sebanyak 1.700 ha lahan HGU dikuasai warga untuk lahan pekarangan, lahan garapan hingga lahan fasilitas umum. Sehingga yang bisa ditanami tebu hanya 2.300 ha. Itupun termasuk lahan pabrik gula dan perumahan bagi karyawan. “Kalau tebu rakyat sekarang sekitar 1 ribu ha,” kata H. Masnil. (ula)