Pangdam Udayana Apresiasi karena Sudah Berkontribusi bagi Swasembada Jagung

Pangdam IX/Udayana, Mayor Jenderal TNI Benny Susianto, SIP didampingi Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin bersama Danrem 162/Wira Bhakti, Kolonel CZI Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos, SH, M.Han melakukan panen raya jagung di Desa Lanci Jaya Kecamatan Manggelewa Kabupaten Dompu, Selasa, 26 Maret 2019. (Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Indonesia berhasil mewujudkan swasembada jagung dan itu tidak lepas dari gerakan yang dimulai dari Kabupaten Dompu. Jagung dari Kabupaten Dompu bahkan sudah diekspor ke luar negeri dan Pangdam IX/Udayana ikut hadir di Pelabuhan Sumbawa untuk menyaksikan ekspor perdana ke Filipina.

Hal itu diungkapkan Pangdam IX/Udayana, Mayor Jenderal TNI Benny Susianto, SIP., saat menghadiri panen raya jagung di Desa Lanci Jaya Kecamatan Manggelewa Kabupaten Dompu, Selasa, 26 Maret 2019 sore kemarin. “Dompu sudah memberikan kontribusi yang besar untuk Bangsa dan negara ini. Kenapa? Belum lama, Negara belum mampu berswasembada jagung. Di era ke sini, kita sudah menampaki untuk swasembada jagung khususnya. Alhamdulillah tahun kemarin, saya hadir di Pelabuhan Sumbawa besar untuk menyaksikan eksport perdana sebagai wujud dari swasembada jagung khususnya di wilayah Sumbawa ini untuk dieksport ke Philipina,” ungkap Benny.

Ia pun mengaku bangga, karena bisa hadir di tengah masyarakat yang memiliki kontribusi begitu besar terhadap bangsa dan negara di bawah kepemimpinan pemerintah setempat. Karena jagung yang diekspor ke Filipina yang dihadirinya tersebut, awalnya dipikir jagung dari Sumbawa Besar dan ternyata sebagiannya jagung Dompu. “Ini saya pesan, tetap dipertahankan. Masyarakat Dompu bukan lagi masyarakat yang kelaparan. Motivasi bupatinya jelas, ingin menjadikan masyarakatnya mampu membayar,” katanya.

Hal ini patut disyukuri. Tidak semua wilayah di Indonesia mempunyai tanah yang begitu subur seperti Kabupaten Dompu. Sejauh mata memandang, melihat tanaman jagung. Namun ia menitipkan agar menjaga keseimbangan alam di bawah kepemimpinan bupati dengan tidak menggunduli hutan dan gunung. “Swasembada jagung dengan tetap menjaga persoalan lingkungan dan ini harus terus diedukasi masyarakat. Jangan semata kita mengejar keuntungan tertentu, materi tertentu, tapi nanti ada bencana alam yang tidak kita inginkan. Pelajaran Papua, ini harus menjadi pelajaran kita semua. Saudara – saudara kita di Papua, motong pohon. Mungkin tidak memperhatikan keseimbangan alamnya, digerus,” pesannya.

 Mayjen TNI Benny Susianto, juga meyakini, masyarakat Dompu akan terus eksis dan maju ke depan. Jika saat ini kemiskinan tinggal 12,40 persen dari 21 persen saat awal kepemimpinan Drs. H. Bambang M Yasin tahun 2010, di sisi waktu 2 tahun kepemimpinan ini diyakini bisa menyisakan kemiskinan di bawah itu. “Jaga terus soliditas. Kalau soliditas bisa kita jaga dengan baik, tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Begitu kompak dengan Forkopinda, insya Allah akan maju depan,” semangatnya.

  Sementara Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin menyampaikan, program jagung ini awalnya didorong bersama aparat TNI/Polri di Dompu. Dandim dan Kapolres bersama jajaran di tingkat desa/kelurahan menjadi suport masyarakat untuk menanam jagung, hingga akhirnya sukses. Setiap tahun, panen raya jagung petani terus dilakukan untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa pemerintah selalu bersama mereka. “Pemerintah tidak akan membiarkan masyarakat terutama petani jagung berjalan sendiri,” katanya.

 Pada 2015 lalu, lanjut H Bambang, Presiden Joko Widodo melakukan panen raya jagung di Manggelewa Dompu. Dari lokasi panen raya jagung di Dompu, presiden mengumumkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung untuk pertama kali oleh pemerintah. “Dukungan pemerintah untuk jagung tumbuh kembang di Kabupaten Dompu ini cukup luar biasa,” jelasnya.

 Kemajuan dan keberhasilan kabupaten Dompu menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan pendapatan per kapita dan kemajuan lainnya tidak lepas dari kontribusi jagung. Pada tahun 2010 lalu, negara mengimpor jagung hingga 13 juta ton, pada 2012 menjadi 7 juta ton impor dan tahun 2015 tinggal 3 juta ton impor jagung dilakukan. “Sekarang alhamdulillah sudah nol ton, kecuali kemarin 150 ton yang dikhususkan untuk pabrik makanan,” ungkapnya.

  Pada tahun 2019 ini, lanjut H Bambang, Indonesia menargetkan tidak akan impor jagung, bahkan akan melakukan ekspor. Di Kabupaten Dompu sendiri menargetkan ekspor 200 ribu ton ke Filipina. “Ini yang terjadi di Kabupaten Dompu. saya benar – benar menikmati hasil perjuangan kami selama 7 – 8 tahun terakhir ini. Kami benar – benar memastikan masyarakat Dompu bisa makan di saat dia ingin makan, masyarakat Dompu bisa pergi dimanapun dia ingin pergi tanpa dia harus minta uang perjalanan ke tetangganya,” kata H Bambang. (ula/*)