Di Dompu, Sekolah Direncanakan Dibayar dengan Sampah

Sekretariat We Save di jalan baru Karijawa Dompu yang tidak bisa dilunasi sehingga terpaksa dijual kembali, tapi masih bisa dimanfaatkan selama 5 tahun kedepan.

Dompu (Suara NTB) – Sampah masih menjadi masalah lingkungan serius di Kabupaten Dompu. Perilaku menjaga lingkungan khususnya dari sampah plastik menjadi perhatian Yayasan We Save, termasuk menargetkan pendirian sekolah dibayar dengan sampah. Ketiadaan lahan dan tempat permanen tidak menghentikan We Save untuk mewujudkan pendidikan tentang sampah.

Agus Setiawan, S.Pd,  Pendiri Yayasan We Save kepada Suara NTB di sekretariat jalan baru Karijawa Dompu mengungkapkan, pendidikan berbasis sampah mulai digelorakan sejak 2013 dan saat itu menjadi awal berdirinya Yayasan We Save. Gagasan pendidikan berbasis sampah yang ditawarkan untuk dipatenkan di Dompu tidak mendapat respon baik.

Ide dan gagasan ini justru diikuti oleh Samarinda Kalimantan Selatan setelah menghadiri seminar nasional yang diselenggarakan Kementrian Pemuda RI yang dihadiri kepala Dinas Provinsi se Indonesia. Pada seminar ini Agus Setiawan menjadi pembicara dan mengangkat ide soal pendidikan berbasis sampah dan mendapat apresiasi dari peserta.

“Untuk operasional OSIS (Sekolah di Samarinda) dari hasil sampah. Siswa dari rumah bawa sampah dan sekolah yang mengelola sampah itu, baik untuk kreativitas maupun dijual langsung ke pengepul,” terangnya.

Kendati ide dan gagasannya sudah diterapkan di Samarinda, Agus Setiawan mengaku, tetap ingin mewujudkan sekolah dibayar dengan sampah. Sistem yang dimiliki dan kreatifitas dalam mendidikan anak akan diwujudkan di sekolah ini. Tahun 2019 ini diharapkan bisa dimulai dengan memanfaatkan dua los rumah toko (Ruko) yang dipinjamkan ke pihaknya. Karena kekuatan di sekolah itu tergantung kepala sekolah dan program pendidikan berbasis sampah sudah dikenalkan sejak lama di sekolah – sekola yang ada. “Tapi oleh sebagian orang menganggap jijik dengan sampah. Bahkan disebut kita jadi pemulung,” katanya.

Sebelum mendirikan Yayasan We Save, Agus mengaku, dirinya memulai kegiatan tahun 2004 dengan kursus gratis. Pada 2007 kemudian mendirikan Dompu English Club (DEC) dan anak – anak membayar kursus dengan sampah. Kendati anak – anak membayar kursus dengan sampah, bukan berarti We Save memiliki banyak uang. Uang uang terkumpul dari menjual kembali sampah ke pengepul dimanfaatkan untuk pemberdayaan dan pendidikan.

Selain kursus yang diikuti masyarakat umum, We Save juga menampung 3 orang anak yatim, 3 orang anak sekolah dan 3 orang pengurus di sekretariat. Pendidikan berbasis sampah ini memiliki 3 nilai, diantaranya pendidikan untuk sadar lingkungan, nilai ekologi dengan lingkungan bersih, dan nilai ekonomi karena sampahnya bisa didaur ulang.

Kendati demikian, We Save masih terkendala lahan. Lahan yang dibeli di jalan baru Karijawa Dompu dan dijadikan sekretariat seluas 1,5 are tidak mampu dilunasi sisanya sebesar Rp.37,5 juta, sehingga harus dijual kembali karena ditagih pemiliknya. Lahan itu pula yang dibangun PT Pegadaian tahun 2018 sebagai bank sampah. “Pemilik baru beri kesempatan ke kita untuk menggunakannya sampai 5 tahun,” ungkapnya.

Akibat tidak adanya lahan, bantuan mesin pencacah sampah plastik bantuan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Dompu tahun 2017 lalu hingga saat ini belum bisa dioperasionalkan. Tapi jaringan internasional di Australia menyatakan kesiapan untuk mengumpulkan dana, sehingga bisa membantu pembelian lahan bagi We Save untuk pengolahan sampahnya. (ula)