Produk Khas Dompu Jadi Incaran Pengunjung NTB Expo 2018

Plt Kepala Dinas Koperasi UKM Kabupaten Dompu, Drs. H. Rifaid, M.Pd saat berbincang – bincang dengan pelaku UKM yang dilibatkan dalam kegiatan NTB Expo tahun 2018. dan Kepala Bidang UKM, Ir Hj Serim, M.Si bersama jajarannya di stan pameran NTB Expo 2018 (foto kanan). (Suara NTB/ula)

Mataram (Suara NTB) – Produk unggulan yang menjadi khas daerah menjadi produk yang paling banyak dicari pengunjung pada kegiatan NTB Expo tahun 2018. Tidak terkecuali di stan Dinas Koperasi UKM Kabupaten Dompu yang mewakili daerah. Diantaranya produk olahan jagung, mete, madu dan kerajinan lainnya.

Plt Kepala Dinas Koperasi UKM Kabupaten Dompu, Drs. H. Rifaid, M.Pd kepada Suara NTB di arena lokasi kegiatan pameran NTB Expo tahun 2018, Kamis, 6 Desember 2018 mengungkapkan pada kain tenunan ngoli kini daerah Kabupaten Dompu memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan daerah lain. Jika sebelumnya antara tenunan ngoli Bima dan Dompu memiliki kemiripan, pembedanya hanya pada motif. Tapi saat ini ada kekhasan tersendiri yang menjadikan ngoli Dompu memiliki keunikan dan keindahan tersendiri.

“Ngoli ini menjadi ciri khas Dompu dengan motif timbul. Ini yang membedakan ngoli kita dengan Bima. Ini hasil program IKKON (program badan Ekonomi Kreatif) kemarin,” terangnya.

Produk khas daerah ini, lanjut Rifaid, akan terus disosialisasikan kepada pasar. Karena selama ini ngoli sebagai tenun khas daerah lebih banyak dikenal sebagai produk daerah Bima. Begitu juga derah produk khas daerah lainnya akan terus dibenahi dan dipasarkan. “Keikutsertaan kita pada kegiatan ini menjadi salah satu cara memasarkan dan menyosialisasikan produk khas daerah,” katanya.

Kepala Bidang UKM Dinas Koperasi UKM Kabupaten Dompu, Ir. Hj. Serim, M.Si pada kesempatan terpisah mengungkapkan, produk khas daerah menjadi produk yang paling banyak dicari pengunjung. Seperti produk olahan jagung, mete, kopi, madu, ikan kering, gula merah dari tebu, dan gula putih halus tebu, serta berbagai produk lain.

“Kita dikenal dengan jagung, pabrik gula dengan tebunya, mete. Makanya produk yang dicari, turunan dari produk unggulan itu,” jelasnya.

Hj Serim juga mengungkapkan, komitmen pihaknya dalam mendorong kemajuan UKM di daerah dengan ikut mendapingi UKM dalam pelatihan peningkatan kapasitas SDM, manajemen usaha, legalitas usaha hingga pada pemasaran produk. Namun pelaku UKM di daerah masih sering kali terkendala pada permodalan usaha dan jejaring. “Ini menjadi tugas kita kedepan dalam memajukan UKM di daerah,” ungkapnya.

Dalam membangun jejaring usaha, tidak lepas dari kemampuan dan keberanian pelaku usaha. Untuk mendukung itu, berbagai terobosan dilakukan Dinas Koperasi UKM Kabupaten Dompu dengan melegalkan usaha pelaku UKM. seperti kepemilikan izin usaha, legalitas usaha dengan kepemilikan nomor P-IRT, sertifikat halal, hingga mematenkan produk di Kementerian Hukum dan HAM. “Ketika sudah ada legalitas usaha, perbankan tidak akan sunkan memberikan pinjaman modal usaha,” jelasnya.

Pada kegiatan NTB Expo 2018 ini, Dinas Koperasi UKM Dompu mengikutsertakan beberapa pelaku UKM dan ada juga yang hanya menitipkan produk. Seperti Sumiati dan Dewi untuk produk tenun, Sunarti dan Yuniar untuk produk olahan jagung, mete dan kue kering, Simbe untuk produk gula merah dari tebu, serta madu dan susu kuda dari Firman.

Sumiati, pengrajin tenun ngoli khas Dompu mengaku cukup bersyukur bisa ikut meramaikan kegiatan NTB Expo tahun 2018. Event ini yang pertama bagi pihaknya dalam memasarkan produk tenun khas Dompu pasca didampingi Bekraf RI melalui program IKKON 2018 yang berakhir September 2018 lalu. Karena baru pertama dipasarkan ke luar daerah, tentu masih banyak yang belum mengetahui. “Setelah ditunjukan produknya dan kualitasnya, mereka langsung tertarik,” ungkap Sumiati.

Untuk jenis tenun ngoli, ada beberapa kreasi yang ditampilkan selain sarung tenun ngoli-nya. Seperti kain selempang, sal, taplak meja, sarung bantal, tas, dompet dan berbagai kreasi lainnya. Produk – produk ini ditampilkan dalam bentuk khas daerah pasca program inovasi melalui IKKON, juga ada produk sebelum dikreasikan. “Pengunjung sekarang rata – rata beralih ke hasil kreasi, karena ada nilai unik dan kualitas tetap terjaga,” katanya. (ula/*)