Bupati HBY dan Pegadaian Resmikan Bank Sampah Induk We Save

Pose bersama salah satu direksi PT Pegadaian (Persero) dari kantor pusat, kepala kanwil, kepala area serta Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin, Minggu, 2 Desember 2018.

Dompu (Suara NTB) – PT Pegadaian (Persero) makin intensif menunjukan kepeduliannya terhadap kelestarian lingkungan. Hal ini ditandai dengan terbentuknya Bank Sampah di sejumlah wilayah. Salah satunya di Kabupaten Dompu.

Daerah yang tengah berkembang dengan program terpijarnya itu dipilih sebagai Fokus pengembangan program bersih-bersih pegadaian melalui The Gade Clean & Gold atau pengkonversian sampah menjadi tabungan emas.

Direktur SDM dan Hukum PT Pegadaian (Persero) Kantor Pusat Jakarta, Moh. Edi Isdwiarto saat peresmian perdana Bank Sampah di Kelurahan Karijawa, Kamis, 29 November 2018 menyampaikan, program The Gade Clean & Gold yang disertai dengan pemberian bantuan CSR pada beberapa kelompok pemuda kreatif ini sengaja dikembangkan sebagai wujud kepedulian pegadaian terhadap kebersihan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Ia juga menegaskan, kehadiran lembaganya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mendukung pengembangan sektor perekonomian dan lingkungan.

“Program The Gade Clean & Gold ini hadir sebagai wujud kepedulian Pegadaian dan menegaskan kehadirannya sebagai BUMN dalam memberi manfaat yang besar bagi masyarakat di sektor ekonomi dan lingkungan,” ungkapnya.

Agenda yang diawali dengan peninjauan Kampung Kreatif Dorotangga tersebut dihadiri Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), Pemimpin Wilayah Pegadaian Bali Nusra, Deputi Bisnis serta jajaran pejabat Pegadaian Area Dompu.

Sebagai badan usaha yang termasuk penyumbang pajak terbesar di Indonesia, kata Moh. Edi Isdwiarto, pegadaian tidak saja berorientasi pada bisnis melainkan juga terlibat aktif membangun lingkungan atau menjadi Agent Of Development (AOD). Diantaranya dengan menggalakkan program bertemakan bersih-bersih, baik bersih lingkungan dengan membangun Bank Sampah, bersih administrasi berupa pendampingan terhadap pengusaha ultra mikro serta bersih hati yang menekankan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara umum.

The Gade Clean & Gold muncul sebagai upaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan di samping memiliki nilai tambah yang tidak hanya berbentuk kontan, melainkan bisa dijadikan tabungan emas. “Dengan emas ini harapannya bisa jadi satu investasi yang kalau sudah terkumpul lumayan bisa diambil jadi uang tunai dan perhiasan atau agunan,” jelasnya.

Dengan diresmikannya Bank Sampah Induk We Save di Kelurahan Karijawa ini diharapkan semua elemen masyarakat bisa memberi dukungan dan merespon positif strategi peningkatan kesejateraan tersebut, pun ketika program ini ingin dikembangkan ke kelurahan lain pihaknya siap untuk memfasilitasi.

Selain agenda peresmian yang ditandai dengan penandatanganan prasasti, pegadaian dalam kesempatan itu juga menyerahkan bantuan kegiatan The Gade Clean & Gold dan CSR pada sejumlah kelompok pemuda kreatif, seperti bantuan bersih-bersih lingkungan untuk Komunitas Pemuda Sarangge di Kelurahan Bali I senilai Rp20.500.000 dan Rp43.840.000 untuk Kampung Kreatif Dorotangga. Sedangkan dalam CSR-nya diberikan bantuan pembangunan pura Agung Setya Dharma sebesar Rp30.000.000 serta bantuan bibit tanaman di hutan tambora calabai Rp30.000.000.

“Sehingga total bantuan fisik bangunan Bank Sampah ditambah sarana pendukung seperti tiga unit kendaraan operasional  dan CSR di Dompu sebesar Rp370.390.000. Inilah bukti hadirnya Pegadaian untuk negeri,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin dalam sambutan dan arahannya menegaskan, sejak awal telah mengingatkan masyarakat agar tidak mempersoalkan banyaknya sampah di wilayah ini, sebab itu telah menunjukan tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi sebagai akibat bertambahnya pendapatan lewat program terpijar yang dikembangkan.

Mengumpulkan atau menampung sampah, menurutnya, bagi sebagian besar warga di Dompu bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan. Namun, oleh para pendatang luar daerah, kegiatan itu dijadikan mata pencaharian empuk. Tak heran merekalah yang kini sukses membangun rumah-rumah mewah dari hasil jerih payahnya mencari sisa makanan yang disepelekan tersebut. “Sementara orang Dompu yang malu ngurus sampah itu ndak dapat apa-apa,” ungkapnya.

Belajar dari pengalaman tersebut dan dengan terbentuknya Bank Sampah ini diharap bisa membangkitkan kesadaran generasi muda untuk menjadikannya sebagai peluang bisnis yang menjanjikan, sehingga kelestarian dan kebersihan lingkungan tetap terjaga dengan baik. “Sebenarnya ini juga membantu diri kita masing-masing, jadi di rumah mulai biasakan sampah itu dipisah,” pungkasnya. (jun/*)