Hingga Awal Oktober, 681 Gugatan Perceraian Ditangani Pengadilan di Dompu

Ilustrasi

Advertisement

Dompu (Suara NTB) – Kasus perceraian di Dompu terus meningkat. Periode Januari-Oktober 2018 ini saja, sudah 681 perkara gugatan yang ditangani, baik cerai gugat, talak, masalah warisan maupun harta bersama. Kehadiran orang ketiga dan tidak dipenuhinya kebutuhan keluarga masih menjadi pemicu utamanya.

Panitera Pengadilan Agama (PA) Negeri setempat, Suharto, S.Ag, kepada wartawan mengungkapkan, dengan melihat jumlah perkara yang masuk tersebut bisa dipastikan terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya, pun masih akan terus bertambah hingga akhir tahun nanti.

“Masih ada data yang belum dimasukan dan ini kita pastikan meningkat dari tahun sebelumnya,” kata dia di ruang kerjanya, Rabu,  3 Oktober 2018.

Terus meningkatnya angka perceraian ini, menurut dia, rata-rata dipicu persoalan klise seperti hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga mereka, tidak dipenuhinya kebutuhan keluarga akibat sang suami sibuk mengkonsumsi minum-minuman keras, berjudi dan sejenisnya. Pun beberapa di antaranya disebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan biologis salah satu pasangan.

Cukup dominan mereka yang terpaksa menghairi pernikahannya di meja hijau itu ialah kalangan masyarakat umum. Kemudian, disusul anak di bawah umur serta Aparatur Sipil Negara (ASN). “Ibu-ibu yang datang mengadu itu alasannya hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya, suaminya tidak bertanggung jawab, perselingkuhan dan tidak terpenuhinya kebutuhan biologis mereka juga ada,” ujarnya.

Dari 681 perkara gugatan yang diterima PA, tegas Suharto, tidak semua kasus yang akhirnya berujung pada perceraian, tetapi ada sebagian kecil dari mereka yang rukun kembali setelah dimediasi, pun dicoret gugatannya lantaran tidak terpenuhinya berkas perkara juga belum mengantongi izin dari pimpinan bagi ASN. Namun rinciannya belum bisa disebutkan karena masih dalam proses pendataan.

Sementara untuk perkara permohon seperti isbat nikah tercatat 221 kasus, sedangkan dispenisasi kawin atau anak dibawah umur yang datang meminta keringanan untuk bisa segera dinikahkan karena persoalan tertentu sudah ada 19 kasus. “Rata-rata yang minta dispensasi ini anak-anak yang hamil di luar nikah, itu umurnya sekitar 15 sampai 16 tahun,” pungkasnya. (jun)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.