80.175 Anak di Dompu Dapat Imunisasi Campak dan Rubella

Dompu (Suara NTB) – Imunisasi campak dan rubella sebagai upaya pencegahan di tengah masyarakat. Sebanyak 80.175 orang anak di Kabupaten Dompu ditargetkan mendapat imunisasi ini. Kepala sekolah dan guru diminta memastikan setiap anak diberi imunisasi. Petugas pun akan melakukan kunjungan rumah bagi anak yang belum diberi imunisasi.

“Mencegah jauh lebih mudah, jauh lebih praktis dan gampang dari pada mengobati. Jadi kita bersama – sama berkepentingan mendahulukan upaya pencegahan dari pada pengobatan,” kata Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin pada pencanangan imunisasi campak dan rubella pada anak usia 9 bulan hingga 15 tahun tingkat Kabupaten Dompu di SDN 1 Dompu, Kamis, 2 Agustus 2018 kemarin.

Target 10.175 orang anak yang diimunisasi di Kabupaten Dompu, kata H Bambang, harus menjadi tanggungjawab bersama. Mereka yang tidak memiliki anak untuk diimunisasi agar memastikan tetangga yang memiliki anak atau cucu untuk diimunisasi.

Terhadap warga dan kelompok masyarakat yang menolak imunisasi, H Bambang mengatakan, pemerintah tidak mungkin membuat program yang menyengsarakan dan merusak masa depan generasi bangsa. Ia pun akan sangat terbuka bila ada pendapat yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah terkait imunisasi untuk mendiskusikannya.

Kepala Dinas Kesehatan Dompu, Hj. Iris Juwita, SKM, MMKes.

“Saya tetap berpikir, tidak mungkin pemerintah membuat program yang menyengsarakan, apalagi akan merusak masa depan generasi bangsa ini,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Hj. Iris Juwita, SKM, MMKes pada kesempatan yang sama menyampaikan, pencanangan imunisasi campak dan rubella tingkat Kabupaten Dompu ini sebagai gerakan massal dengan sasaran anak usia 9 bulan hingga 15 tahun. Tapi pada tahap pertama Agustus ini sasarannya anak PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs atau anak yang kurang dari 15 thaun. Pada September 2018 sasarannya pada anak balita sampai 9 tahun.

Hj. Iris juga mengungkapkan, penyakit campak masih ditemukan di Kabupaten Dompu walaupun imunisasi tetap rutin dilakukan. Akan tetapi gerakan massal imunisasi belum pernah dilakukan, sehingga saat ini dilakukan. Karena secara nasional ditargetkan tahun 2020 akan bebas dari campak dan rubella. Sementara saat ini, anak – anak yang mendapat imunisasi campak hanya 0,05 persen.

Sebagai kepala Dinas Kesehatan di Dompu, Hj. Iris berharap semua warga Dompu diimunisasi campak dan rubella. Ini menjadi tanggungjawab bersama dan harus bergerak cepat, gerak semua. Mulai dari pemerintah, swasta maupun masyarakat. “Saya mengharapkan kita di Dompu ini 100 persen anak – anak harus mendapat imunisasi ini,” kata Hj. Iris.

Ia juga memastikan, imunisasi campak dan rubella tidak memiliki efek apa – apa. Namun imunisasi ini tidak bisa diberikan kepada anak yang sedang mengalami sakit batuk pilek, panas atau halangan lainnya yang kontra indikasi dari pelayanan imunisasi. “Tidak ada efek sampingnya. Lain dengan imunisasi difteri. Kalau difteri pada bayi balita. Memang ada efeknya menimbulkan panas. Tapi kalau campak dan rubella ini tidak ada efeknya,” ungkapnya.

Bagi guru kepala sekolah untuk mencatat anak – anaknya yang belum diimunisasi, sehingga bisa dikunjungi tim dari Dinas Kesehatan. Karena program Indonesia sehat, pendekatannya secara kekeluargaan. Vaksi yang dipake pada imunisasi campak dan rubella juga telah dilakukan uji laboratorium oleh laboratorium kesehatan daerah Riau tahun 2018. “(Hasilnya) Itu tidak mengandun babi. Mui juga sudah memaklumi, karena di dalam vaksin ini tidak ada kandungan lain,” terangnya. (ula/*)