Akibat Kekeringan, Kebakaran di Tambora Hanguskan Delapan Hektar Lahan

Mataram (Suara NTB) – Kepala Balai Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT), R. Agus Budi Santosa menegaskan, kebakaran di kawasan tersebut menghanguskan delapan hektar lahan. Di musim kemarau ini, lahan dipenuhi rumput yang benar-benar mengering dan sangat mudah terbakar. Meski hanya dipicu puntung rokok.

Kepada Suara NTB, Jumat, 20 Juli 2018, Agus menegaskan kronologis kebakaran di kawasan TNGT baru-baru ini. Menurutnya, kebakaran mulai terdeteksi sejak Selasa, 17 Juli 2018, sekitar pukul 15.00 Wita.

Kebakaran ini terjadi di dua titik dengan luas total sekitar delapan hektar. Satu titik berada di dalam kawasan TNGT dan satu titik lainnya di luar kawasan. Pada Rabu, 18 Juli 2018 pukul 03.00 dini hari, kebakaran sudah dipadamkan.

Hingga kini, Agus mengaku pihaknya belum bisa mengetahui pemicu kebakaran tersebut. Namun, ia mengutarakan sejumlah hal yang mungkin menjadi pemicunya. Agus menerangkan, lokasi tempat kebakaran merupakan lokasi yang jarang terjamah manusia alias remote area.

“Memang bukan tempat orang biasa lewat, karena bukan jalur pendakian. Tapi memang di sekitar itu banyak aktivitas masyarakat yang nyari ternak. Kita tidak tahu apakah itu berkorelasi dengan masyarakat yang mencari ternak atau apa,” ujarnya.

Baca juga:  Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Karhutla

Agus menambahkan, selain kemungkinan tersebut, bisa jadi kebakaran juga memang murni karena sebab alam. Mengingat, kondisi rumput di kawasan tersebut saat ini benar-benar telah mengering. Rumput kering yang dipanaskan oleh suhu ekstrem, menurutnya bisa terbakar.

“Karena memang ‘bahan bakarnya’ ada. Karena rumput kering yang benar-benar sudah kering. Kalau ketemu suhu yang sedikit ekstrem bisa terbakar. Tapi belum ada penyidikan apakah ini disengaja atau tidak,” tandas Agus.

Menurutnya, ini merupakan kejadian pertama di kawasan

TNGT. Bulan lalu, insiden serupa juga terjadi. Namun, kebakaran tidak menjalar sampai ke kawasan TNGT. “Kalau bulan lalu, ada kebakaran di arealnya Sanggar Agro, masyarakat memblokir, akibatnya kebakaran menjalar hingga ke pinggiran taman nasional,” sebutnya.

Agus menerangkan, saat ini Asian Games sudah di depan mata. Pada 18 Agustus mendatang, berdasarkan perintah Presiden RI, Joko Widodo, tidak boleh lagi ada insiden kebakaran hutan dan lahan yang dapat mengganggu agenda besar tersebut.

Namun, di sisi lain, ancaman kebakaran justru sedang meningkat. Sebab, bulan Juli dan Agustus diperkirakan akan menjadi puncak musim kemarau. Untuk itulah, pihaknya mengimbau agar masyarakat ikut mengantisipasi kemungkinan terulangnya insiden kebakaran ini.

Baca juga:  Kemarau Diprediksi hingga November

“Kita berharap masyarakat yang beraktivitas di daerah rawan, tolong berhati-hati. Misalnya jangan pernah menyalakan api unggun. Kalau merokok, puntungnya jangan dibuang. Dimasukkan tempat pembuangan pribadi. Ketiga, kalau melihat ada asap, atau api yang kelihatan, tolong segera lapor. Ke siapapun yang terdekat. Entah itu ke Koramil, Polsek, Taman Nasional, KPH, atau Desa. Karena semakin cepat api itu kita tangani, semakin sedikit luasan yang terbakar,” serunya.

Pihaknya pun telah menyediakan skema penanganan yang memungkinkan kebakaran dipadamkan dengan cepat. Di tingkat kabupaten, telah dibentuk semacam badan koordinasi untuk menghadapi kebakaran lahan ini. Ada juga forum koordinasi penanganan bencana daerah yang juga menangani bencana kebakaran hutan dan lahan.

Kebakaran di Tambora ini, menurutnya bisa cepat dipadamkan berkat kesigapan banyak pihak. “Kemarin waktu kita padamkan api, bukan cuma orang taman nasional. Juga ada anggota Koramil setempat. Total dari taman nasional dan masyarakat ada 13 orang, kemudian dari Koramil lima orang,” pungkasnya. (aan)