DKP Dompu Arahkan KRPL 2018 ke Desa dengan Kasus Stunting

Dompu (Suara NTB) – Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan program untuk meningkatkan gizi keluarga dan penganekaragaman konsumsi pangan. Program ini menjadi salah satu program prioritas Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu tahun 2018. Jika tahun 2017 program KRPL diarahkan untuk Desa miskin, tahun 2018 difokuskan pada Desa yang ada kasus stuntingnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu, Drs Burhanuddin melalui kepala bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan Kabupaten Dompu, Muhammd Fagih, S.Pt kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Kamis (26/4) kemarin mengungkapkan, program KRPL yang didanai melalui dana Dekon kembali dilakukan tahun 2018. Jika pada 2017 ditunjuk 5 Desa, tahun ini ditunjuk sebanyak 6 Desa. Diantaranya kelompok di Desa Oo, Desa Ranggo, Desa Jala, Desa Mumbu, Desa Bakajaya, dan Desa Sorinomo.

“Tahun 2017, program KRPL diutamakan Desa miskin. Tahun 2018 ini diutamakan yang ada kasus stuntingnya,” ungkapnya.

Kelompok di Desa ini ditunjuk sebagai penerima program KRPL tahun 2018 karena ditemukan kasus stuntingnya. Desa – Desa ini ditentukan langsung oleh pusat, dan Kabupaten hanya menentukan kelompok yang ada di Desa setempat. “Desa ditentukan Jakarta (pusat) berdasarkan data stunting (kasus gizi buruk), tugas kita memilih dan menentukan kelompoknya,” jelasnya.

Baca juga:  Laporan Penanganan Stunting Jadi Syarat Pencairan DD 2020

KRPL memiliki beberapa kegiatan di masing – masing kelompok yang telah ditunjuk dengan biaya Rp.50 juta per kelompok dan masing – masing kelompok beranggotakan 30 orang. Kegiatannya pembuatan kebun bibit, demplot atau kebun contoh, pemanfaatan pekarangan anggota, pemanfaatan kebun sekolah yang dekat dengan kelompok, dan pengolahan hasil untuk pangan lokal.

Program KRPL ini tujuannya untuk meningkatkan gizi keluarga anggota kelompok, meningkatkan pendapatan anggota kelompok, menurunkan angka kemiskinan, dan menganekaragaman konsumsi pangan masyarakat. “Skor pola pangan harapan (PPH) kita tingkat Kabupaten baru 75 dari target 76. Jadi, kita akan terus mendorongnya,” ungkapnya.

Saat ini, kata Fagih, kelompok yang telah ditentukan sedang menyiapkan pembibitan untuk tanaman sayur – sayuran serta berbagai jenis pangan bagi kebutuhan rumah tangga di kebun demplot. Bibit yang disiapkan, kemudian akan dibagikan kepada masing – masing anggota kelompok termasuk kebun sekolah yang dekat dengan sekolah. “Pekan depan sudah mulai dibagikan ke anggota kelompok bibitnya,” terangnya.

Baca juga:  Turunkan Stunting dengan Kearifan Lokal

Untuk efektivitas pelaksanaan program, kegiatan ini tetap dilakukan pendampingan oleh pendamping Desa dari penyuluh di tingkat Desa dan pendamping Kabupaten. Sehingga masalah yang dihadapi kelompok, ada penyuluh yang membimbingnya. “Penyuluh sebagai pendamping di Desa ada insentifnya,” katanya.

Kendati hanya beberapa kelompok yang mendapat bantuan untuk program KRPL, Fagih mengaku, kelompok yang ditunjuk hanya sebagai contoh untuk bisa diikuti oleh anggota masyarakat lain. Sehingga penetapan kelompok penerima program KRPL tidak bisa dilakukan terhadap kelompok yang menerima tahun lalu atau dari sumber anggaran yang berbeda. “Ini hanya contoh untuk memotifasi warga memanfaatkan lahan pekarangannya bagi kebutuhan pangan, sehingga bisa membantu kebutuhan rumah tangga dan gizi keluarga,” jelasnya. (ula/*)