Festival Tambora 2018, Pengembangan Komoditas Lokal Diharapkan Jadi Daya Tarik

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dompu, H. Ichtiar, SH.

Dompu (Suara NTB) – Festival Tambora yang menjadi even pariwisata Nasional untuk mengenal Tambora dan daerah sekitarnya kembali digelar tahun 2018. Pengembangan komoditas lokal dan promosi potensi daerah melalui pengembangan ekonomi kreatif diharapkan menjadi daya tarik event tahunan yang telah dicanangkan Presiden Joko Widodo tahun 2015 lalu.

Menjelang puncak pelaksanaan Festival Tambora 2018, berbagai persiapan dilakukan pemerintah daerah (Pemda) Dompu berkoordinasi dengan pemerintah Provinsi (Pemprov) dan pemerintah pusat. Kegiatan yang dikoordinir pemerintah pusat masih dipercayakan kepada KOMPAS sebagai pelaksana untuk lomba lari 320 K yang puncaknya pada 4 – 7 April 2018.

Pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Dompu bekerjasama dengan pihak swasta dan pelaku ekonomi kreatif akan melaksanakan event lomba mancing mania di teluk Saleh yang melibatkan pemancing nasional. Event ini akan menjadi awal bagi promosi potensi laut di perairan teluk Saleh. Begitu juga dengan event festival kopi Tambora yang direncanakan akan berbeda pelaksanaannya dari tahun – tahun sebelumnya karena difokuskan di sekitar lereng gunung Tambora di Desa Tambora Kecamatan Pekat.

Festival Tambora tahun 2018, H. Ichtiar, SH., Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu mengungkapkan, selain akan mendesain ivent budaya untuk menarik wisatawan, juga difokuskan kepada pengembangan ekonomi kreatif. Sehingga berbagai ivent ditargetkan pada promosi ekonomi kreatif.

“Event – event yang akan dilaksanakan selama festival Tambora tahun 2018 akan difinalkan dalam pertemuan bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB tanggal 8 Maret pekan depan. Tapi berbagai persiapan sudah mulai dilakukan,” katanya.

Beberapa ivent akan dilaksanakan pada puncak pelaksanaan Festival Tambora tahun 2018 selain lari 320 K, lomba mancing mania, dan festival kopi Tambora, juga beberapa kegiatan lain seperti event budaya Cera Labu (selamatan pantai), festival kuliner, festival jagung, hiburan rakyat, pameran tekhnologi tepat guna (TTG), foto budaya dan pesona Tambora, pawai budaya, makan bubur, trail adventur, dan bersepeda.

“Pusat kegiatan tetap di padang Savana Doro Ncanga di lereng gunung Tambora,” kata H Ichtiar.

Berbagai fasilitas untuk mendukung iven Festival Tambora 2018 di padang Savana Doro Ncanga seperti ketersediaan air bersih, jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi juga tersedia di sekitar arena padang Savana Doro Ncanga.

“Kalau masalah jaringan komunikasi, sudah tidak ada masalah. Nanti akan ditambah kapasitasnya, sehingga tidak ada masalah dengan komunikasi dan sistem internetnya,” ungkapnya.

Ichtiar juga mengungkapkan, di padang savana Doro Ncanga menjadi pintu masuk pendakian jalur Doro Ncanga juga akan dibangun museum gunung Tambora oleh pihak Taman Nasional Gunung Tambora. Museum dengan nilai anggaran sekitar Rp1,7 M ini akan dibangun tahun 2018 dan akan melengkapi kebutuhan informasi soal gunung Tambora.

Pengembangan taman Nasional Gunung Tambora secara bertahap akan terus dilakukan oleh pemerintah maupun pihak swasta. Di jalur pendakian Pancasila, seiring semakin ramainya pendaki dari dalam negeri maupun mancanegara. Namun kerusakan lingkungan akibat perambahan hutan dan illegal logging di sekitar kawasan hutan dan taman nasional gunung Tambora masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama bagi pengembangan taman nasional gunung Tambora.

Sementara untuk di daerah padang savana Doro Ncanga, H Ichtiar mengaku, belum adanya tempat akomodasi yang memadai sekitar padang savana Doro Ncanga menjadi pertanyaan calon pengunjung. Beberapa investor ingin membangun hotel.

“Mestinya ada hotel (di padang Savana Doro Ncanga). Itu selalu menjadi pertanyaan (di Jakarta). Kalau Bupati tidak boleh ada yang permanen, supaya bisa menjaga nuansa alamnya,” ungkapnya. (ula/*)