Tingkatkan Nilai Ekonomi, Dinas Ketahanan Pangan Latih Kelompok Afinitas Desa Mandiri Pangan

Dompu (Suara NTB) – Empat kelompok Desa Afinitas Desa Mandiri Pangan yang ada di empat Desa binaan dilatih untuk peningkatan usaha kelompok dan anggota kelompok. Pelatihan ini sebagai tindak lanjut bantuan yang diberikan sebelumnya. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari anggota kelompok serta warga setempat, karena sesuai potensi di Desa itu.

Empat Desa binaan untuk program Desa mandiri pangan masing-masing Desa Karamabura Kecamatan Dompu, Cempi Jaya, Marada, dan Desa Jala Kecamatan Huu. Di Karamabura, kelompok Desa afinitasnya diberi pelatihan soal tekhnik penetasan telur dan pengolahan telur asin. Di Cempi Jaya dan Marada dilatih soal pembuatann keripik ikan teri menepela dan kerupuk ikan. Di Jala dilatih soal pembuatan kerupuk ikan dan naget ikan.

Kegiatan pelatihan itu sendiri kerjasama Badan Ketahanan Pangan Provinsi NTB dengan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu yang dilangsungkan serempak, Selasa, 4 April 2017. Masing – masing Desa, pelatihannya diikuti oleh 15 orang anggota kelompok. Karena antusias warga yang didominasi ibu – ibu rumah tangga ini juga terlihat dari kehadiran mereka yang tidak tergabung dalam kelompok.

Kepala Bidang Konsumsi Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Dompu sekaligus fasilitator pelatihan, Muhammad Fagih, S.Pt di Desa Karamabura memberikan pelatihan soal penetasan telur itik. Mulai dari proses pembuatan mesin tetas, pemilihan telur dan tata laksana penetasan. Dalam pembuatan mesin tetas, anggota kelompok diminta menyediakan dan merakit beberapa komponen bahan yang diperlukan seperti karangka peti dari kayu, triplex, lampu pijar 25 watt, rak telur, termometer untuk mengukur suhu berikut bahan – bahan lain sesuai yang dibutuhkan.

Untuk pemilihan telur, syaratnya harus telur bersih, usianya tidak lebih dari sepekan, cangkangnya tidak tebal, besarnya sedang dan bersumber dari induk yang sehat dengan usia ideal minimal delapan bulan. “Pada prinsipnya proses penetasan telur ini sama seperti perlakuan induk ayam pada telurnya,” ujar Fagih.

Sedangkan untuk tata laksana penetasan telur dengan memasukan air dalam bak ke mesin tetas dengan ketinggian 2 cm dari dasar bak air. Menghidupkan mesin tetas hingga suhunya mencapai 38 derajat celcius atau 100 farenheit. Lalu menyusun telur dalam rak dengan bagian tumpul di atas yang kemiringanya 45 drajat. Usia tetas dari telur unggas yang dimasukkan ini pun bervariasi. Telur itik dibutuhkan waktu ideal 28 hari untuk proses penetasan, telur ayam 21 hari dan telur merpati atau puyuh hanya butuh waktu 16 hari.

Langkah dari hari pertama sampai ke tiga, kata Fagih, mesin tidak boleh dibuka. Hari keempat, baru dibuka seperempat. Baru setengah kemudian tiga perempat. Setelah hari ke tujuh, baru dibuka semua sampai dia menetas 28 hari. Tapi di sela-sela itu, ada pemeriksaan telurnya apakah berhasil atau tidak. Mulai hari ke 7, 14 dan 21. “Ciri-ciri telur hidup itu, tanda-tandanya ada cabang-cabang merah. Kalau ndak hidup, dia terang saja dan ada titik-titik hitam,” pungkasnya.

Selain M Fagih yang memberikan pelatihan soal tekhnik penetasan telur, tutor lainnya disampaikan oleh Ida Nursyanti, S.Pt yang memberikan tutorial soal pengolahan telur asin di Desa Karamabura. Sementara di Cempi Jaya dilatih oleh Siti Asma, S.Pt tentang pembuatan keripik ikan teri menepela dan kerupuk ikan. Di Desa Marada oleh Endang Yunari, SPI tentang pembuatan keripik ikan teri menepela dan kerupuk ikan. Di Jala dilatih oleh Ir Lili Maswari tentang pembuatan kerupuk ikan dan naget ikan. (jun/ula/*)