Pecahkan Dua Rekor Muri, Kades dan Camat di Dompu Siap Kerahkan Warganya

Dompu (Suara NTB) – Tari massal saremba tembe, dan parade katente dan saremba tembe ditargetkan akan memecahkan rekor di Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) oleh pemerintah Kabupaten Dompu pada 1 April 2017. Tidak tanggung – tanggung, peserta ditargetkan hingga 30.000 untuk tari saremba tembe dan parade katente dan saremba tembe sebanyak 15.000 peserta. Kepala Desa (Kades) dan Camat akan siap mengerahkan warganya untuk menyukseskan pemecahan rekor Muri ini.

Kepala Desa dan Camat se Kabupaten Dompu dihadirkan khusus terkait rencana pemecahan dua rekor Muri oleh pemda dalam rapat persiapan di aula kantor Dinas Dikpora Kabupaten Dompu, Kamis (16/3/2016). Rapat yang dihadiri juga oleh Sekda Dompu, H. Agus Bukhari, SH, M.Si ini dipimpin oleh Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, H. Ichtiar, SH.

Sekda Dompu, H. Agus Bukhari, SH, M.Si kepada wartawan mengatakan, event tarian massal saremba tembe, dan parade katente dan saremba tembe yang menjadi bagian dari Festival Pesona Tambora (FPT) tahun 2017 menjadi bagian dari agenda nasional untuk promosi pariwisata di daerah. Event ini juga harus didukung oleh pemerintahan di Desa.

“Mengalokasikan anggaran Desa untuk mobilisasi warga event katente dan saremba tembe tidak ada masalah,” katanya.

Baca juga:  Kemajuan Sektor Pariwisata NTB Harus Dipertahankan

H. Ichtiar, SH mengatakan, rapat dengan Kepala Desa dan Camat se Kabupaten Dompu yang dilaksanakan pihaknya untuk memastikan kesiapan pelaksanaan tari massal dan parade yang akan memecahkan rekor Muri pada 1 April 2017 mendatang.

“Kepala Desa dan Camat yang hadir menyatakan kesiapannya untuk ikut menyukseskan event ini,” katanya.

Dua rekor Muri yang ingin dipecahkan ini, kata H. Ichtiar, untuk tarian massal saremba tembe ditargetkan 30.000 orang peserta. Karena pada tarian ini diikuti oleh laki – laki dan perempuan dan dipusatkan di lapangan beringin Setda Dompu. Tarian ini filosofinya sebagai ekspresi kegembiraan petani usai panen hasil pertaniannya.

“Kita targetnya 30.000 peserta, karena tarian massal ini diikuti oleh laki – laki dan perempuan,” katanya.

Untuk parade katente dan saremba tembe, kata H. Ichtiar, ditargetkan 15.000 orang peserta laki – laki. Pelaksanaannya akan dilakukan usai tarian massal di lapangan Setda Dompu. Namun parade katente dan saremba tembe ini mengambil titik star di taman kota mengambil jalur, lawan arus di jalan Soekarno – Hatta menuju pasar Dompu hingga lapangan bola Karijawa.

Katente tembe memiliki makna sikap religiusitas warga Dompu sebagai warisan budaya Dompu dengan sarung Nggoli-nya. Dengan katente bagi laki – laki menunjukan kesiapan untuk melaksanakan shalat lima waktu pada awal waktu. Sementara untuk saremba tembe memiliki makna agar lelaki tidak boleh berpangku tangan dan harus gigih bekerja. Posisi kainnya menyilang dari bahu kanan ke pinggang kiri. Ketika mulai bekerja, sarung diikat di perut. “Kalau saremba tembe itu filosofinya tidak boleh malas. Untuk filosofi bagi orang malas itu sanggodo tembe. Yang membedakan saremba dan sanggodo itu pada cara pakainya. Kalau sanggodo itu, kain digantungkan ke leher dua lingkaran,” jelas H Ichtiar.

Baca juga:  Kemajuan Sektor Pariwisata NTB Harus Dipertahankan

Namun yang terpenting dari event ini, lanjut H Ichtiar, untuk mempromosikan dan memasarkan kain Nggoli sebagai khas daerah. Karena pada event ini, masing – masing peserta membutuhkan dua lembar kain sarung untuk katente dan untuk saremba. “Ini bagian dari upaya kita memasarkan dan mempromosikan kain Ngoli,” jelasnya.

Untuk pihak rekor Muri, dikatakan H. Ichtiar, sudah dikoordinasikan pihaknya dan sudah ada kesiapan untuk hadir menilai dua event, sehingga bisa dicatat dalam rekor Muri. “Kalau dari Muri sudah siap semua, tinggal tunggu waktu pelaksanaan saja,” katanya. (ula/*)