Dompu Endemik Penyakit Antraks

Dompu (Suara NTB) – Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Disnakeswan Dompu, dr. Mujahidin mengungkapkan Dompu termasuk daerah endemik antraks. Penyakit menular yang menyerang semua jenis ternak ini menyasar semua kecamatan, terlebih tidak mengenal musim.

“Kita termasuk endemik sewaktu-waktu bisa terjangkit penyakit antraks, pokoknya setiap tahun penyakit itu bisa timbul,” kata dia kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis, 2 November 2017.

Iklan

Cukup dominan penyakit menular dan mematikan ini menyasar ternak masyarakat berupa sapi, kerbau, kuda, domba dan kambing. Gejalanya tak jauh berbeda dengan penyakit ternak pada umumnya, seperti naiknya suhu badan ternak, nafsu dan berat badan turun akibat serangan bakteri juga terkadang radang limpa.

Kalau pun ternah penderita antraks ini masih bisa diselamatkan atau disembilih saran dia, maka bagian tubuh yang teriveksi harus dibuang, hal ini guna menhidari munculnya penyakit baru pada masyarakat yang mengkonsumsi dagingnya. Dan untuk ternak yang tidak bisa diselamatakan baiknya langsung dikubur tanpa membedah organ tubuhnya yang terinveksi. Karena darah yang tercecer di tanah akan mudah menyebar ke ternak-ternak lainya.

“Sebaiknya memang kalau terjangkit antraks dan mati tidak perlu dibedah atau dipotong langsung dikubur, kalau masih bisa dikonsumsi sebaiknya organ dalam itu tidak dimakan,” jelasnya.

Sementara penyakit ternak lainya seperti flu dan sebagainya tambah Mujahidin, tidak cukup membahayakan lantaran itu hanya pengaruh lemahnya sistim kekebalan tubuh ternak. Dari beragam jenis penyakit ternak yang ada pihaknya masih berkonsentrasi menekan penyakit antraks. Salah satunya dengan menggecarkan vaksinasi ternak masyarakat.

Dan dihimbau pihaknya agar masyarakat tetap proaktif mendaftar ternaknya untuk vaksinasi, terlebih pemerintah kabupaten diharap mesuportnya melalui anggran APBD. Sehingga bisa dilakukan vaksinasi tiap bulanya. “Anggaran dari provinsi biasanya datang bulan Juli, Agustus dan harus SPJ September atau November. Ketika di SPJ-kan otomatis bulan-bulan sebelumnya terlewati ternak-ternak itu. Kalau kita mulai dari Januari ada alternatif dari peternak untuk membawa ternak itu ke petugas untuk di vaksin dari Januari sampai Desember,” ujarnya.

Disinggung angka kematian ternak akibat penyakit antraks, Mujahidin mengatakan sejauh ini masih cukup kecil, biasanya itu akibat telat mendapat penanganan petugas. (jun)