Dompu Butuh Tambahan Dokter Spesialis

Ilustrasi dokter. (Sasin Tipchai/Pixabay)

Dompu (Suara NTB) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dompu, masih kekurangan sejumlah tenaga medis. Khususnya untuk dokter spesialis anak, bedah, penyakit dalam dan anestesi. Meski kekurangan itu belum dirasa berdampak pada pelayanan kesehatan, namun dianggap membebani masing-masing satu dokter yang ada saat ini.

Direktur RSUD Dompu, dr. H. Syafruddin kepada wartawan di kantornya, Senin, 6 Januari 2020 menyampaikan, di tahun 2019 pihaknya sudah berupaya meminta dokter kerjasama ke Denpasar untuk menambah tenaga medis yang ada. Terutama dokter spesialis anak dan penyakit dalam.

Iklan

“Karena kami harapkan pemberdayaan spesialis sampai dua kali pembukaan ini tidak ada yang milih Dompu. Mereka selalu milih Daerah Jakarta, Bali dan sebagainya,” ungkap dia.

Dokter spesialis anak, penyakit dalam, anestesi serta bedah diakuinya sudah tersedia. Namun, sebagai rumah sakit tipe C jumlah mereka yang hanya satu orang dirasa belum ideal. Minimal harus ada dua dokter spesialis di masing-masing bidang keahlian tersebut.

Untuk tetap bertahan dengan satu dokter yang dimiliki saat ini, menurut Syafruddin, tidak menjadi persoalan. Hanya saja waktu dan tenaga mereka yang tersita cukuplah banyak, sehingga berpotensi membuat pelayanan tak bisa maksimal dilakukan.

“Kasian saja dokternya karena seharusnya mungkin jam 2 sudah pulang, sekarang dia ndak bisa karena masih lanjut VCT. Dan aturannya dia ndak perlu jaga malam karena dia sendiri harus jaga malam jadinya. Kalau yang emergency kan hukumnya wajib on call, jadi kasian ndak ada istirahatnya,” jelas dia.

Selain empat dokter spesialis tersebut, sebetulnya RSUD Dompu juga kekurangan dokter gigi. Tetapi atas pertimbangan jumlah pasien yang datang tak seberapa sehingga lebih diprioritaskan kebutuhan di atas.

Saat ini, tambah Syafruddin, semua rumah sakit dengan berbagai tipenya tidak lagi dibatasi aturan dalam mempekerjakan tenaga medis khususnya dokter. Terpenting ialah pemerintah daerah memiliki kemampuan anggaran untuk mendatangkannya.

“Seperti misalnya dokter tulang itu kan bagian rumah sakit tipe B. Tapi kalau Pemda mampu bayar ya kita siap-siap saja. Karena sekarang prinsipnya rumah sakit boleh punya dokter macam-macam asalkan pemda mampu,” pungkasnya. (jun)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional