DKP Lotim Sebut Akibat Produksi Lobster Konsumsi Menurun

0
Ilustrasi Budidaya Lobster (suarantb.com/pexels)

Selong (Suara NTB) – Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Timur (Lotim) menyebut penurunan 70 persen penjualan lobster ke luar daerah ini karena terjadi penurunan produksi. Pada saat harga mahal Rp550 ribu perkilogram beberapa waktu lalu, neyalan menjual semua. Sehingga, pada saat ini tersisa lobster yang kecil-kecil.

“Saat ini produksinya kurang, karena terjual semua,” ungkap Kepala DKP Lotim, H. Hariyadi Surenggana menjawab Suara NTB, Rabu, 17 Februari 2021. Lobster kecil-kecil saat ini katanya seukuran 150 gram atau belum layak jual.

IKLAN

Udang besar ini diakui di pasaran masih sangat laku. Masih cukup tinggi permintaan untuk konsumsi. Hanya saja harga jual katanya masih turun. Sejauh ini, penjualan lobster hanya sampai di Jakarta. Keran ekspor belum dibuka. “Kita saat ini hanya sampai Jakarta saja dulu, karena belum ada ekspor,” paparnya.

Bisnis lobter ini diakui cukup menggiurkan. Perputaran nilai keuntungannya cukup besar. Termasuk bisa juga menjadi bagian dari bisnis perusahaan daerah. Akan tetapi, kalau diambil alih oleh pemerintah khawatirnya akan kalah saing dengan pelaku usaha eksportir yang sudah ada. “Bisa kalah saing dengan yang sudah terbang duluan,” imbuhnya.

Untuk pengembangan budidaya lobster ini, Lotim sendiri disebut menjadi daerah sentral produksi. Beberapa waktu lalu, diberikan bantuan Keramba Jaring Apung (KJA) Aquatek senilai Rp48 miliar kepada 73 kelompok pembudidaya yang ada di wilayah Kecamatan Jerowaru dan Keruak.

Selain KJA, pembudidaya juga diberikan bantuan benur dengan total nilai Rp5,5 miliar. Dtargetkan Lotim bisa menghasilan 100 ton lobster konsumsi tahun 2021. “Tahun ini kita target produksi besar,” ucap Hariyadi. Dalam melakukan budidaya lobstyer, diketahui Indonesia bersaing dari Vietnam. Lotim sebagai daerah penghasil diharapkan mampu menyumbangkan produksi yang besar bagi Indonesia. “kita harus berhasil,” katanya. (rus)