Ditutup, Pengelola Air Terjun Kalela akan Benahi Sistem Keamanan

Areal air terjun Kalela (Samporon Tangkel) diberi garis polisi pasca insiden kecelakaan pengunjung pekan lalu.(Suara NTB/ist)

Taliwang (Suara NTB) – Obyek wisata air terjun Kalela akhirnya di tutup. Penutupan yang ditandai dengan pemasangan garis polisi itu dilakukan menyusul telah terjadinya insiden jatuhnya seorang pengunjung akhir pekan lalu hingga berujung kematian.

Mukhlis, ketua Pokdarwis Jantop  membenarkan perihal penutupan untuk tujuan wisata air yang dikelolanya tersebut. Penutupan itu sebelumnya buah dari kesepakatan Dinas Pariwisata setempat, kepolisian dan pihaknya selaku pengelola. “Iya sejak hari ini kita tutup. Dan polisi sudah pasang garis polisi di seputaran air terjun,” akunya saat dihubungi Suara NTB, Rabu, 13 Januari 2021.

Pasca insiden kematian pengunjung di air terjun yang oleh warga setempat dinamakan Samporon Tangkel itu. Dikatakan Mukhlis pihaknya selaku pengelola saat ini tengah membenahi sistem keamanannya. Terutama keamanan bagi para pengujung yang akan beriwisata ke depannya. “Harapan kami memang jangan terlalu lama ditutup. Sebab kami sekarang sedang benahi sistem termasuk fasilitas keamanan yang dibutuhkan obyek wisata yang kami kelola itu,” janjinya.

Selaku pengelalola, pihaknya pada dasarnya bukan tanpa menerapkan prosedur dan fasilitas keamanan bagi pengunjung. Ia mengungkapkan, selama ini prosedur keamanan bagi pengunjung air terjun tetap diberlakukan. Mulai dari pemberitahuan mengenai informasi kondisi air kolam air terjun hingga menyiapkan peralatan keamanan berupa pelampung. “Tapi ya nama musibah, kami tidak bisa hindari walau kami sudah maksimal menjaga keamanan pengunjung,” timpalnya.

Mukhlis pun sedikit mengulik awal mula peristiwa kematian pengunjung yang terjadi akhir pekan lalu. Ia menyebutkan, sebenarnya korban dan rekan-rekannya saat datang telah diingatkan agar tidak mandi di air terjun. Pasalnya debit air terjun besar setelah sehari sebelumnya terjadi banjir. “Saran kami saat itu boleh masuk ke lokasi tapi cukup berfoto-foto saja. Tidak boleh mandi. Dan karena larangan itu kami pun tidak melengkapi mereka dengan pelampung,” sebutnya.

Namun tampaknya, larangan pihak pengelola itu tidak diindahkan. Korban dan rekan-rekannya tetap melakukan hal yang dilarang itu hingga akhirnya insiden yang berujung kematian itu menghapiri korban. “Di hari saat kejadian itu sebenarnya banyak pengunjung datang tapi kami larang karena mereka mau mandi. Tapi korban dengan rekan-rekannya sebanyak 8 orang alasannya cuma mau foto-foto saja jadi kita izinkan tapi syaratnya jangan mandi. Tapi larangan kami diambaikan,” tukas Mukhlis seraya kembali berjanji ke depan tidak akan lagi teledor dengan hal serupa.

“Ini pelajaran bagi kami selaku pengelola. Ke depan saat obyek wisata ini dibuka lagi, kami akan ketatkan sistem dan aturan keamanan kami bagi pengunjung tanpa terkecuali,” tandasnya.(bug)