Ditolak Warga, DLH Lobar Tetap Lanjutkan Rencana Pembangunan TPST di Senteluk

Warga menutup akses jalan sebagai bentuk penolakan rencana pembangunan TPST.

Giri Menang (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat (Lobar) akan tetap melanjutkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang rencananya dibangun di Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lobar. Langkah ini dilakukan sesuai arahan Bupati. Sebelumnya, sempat terjadi aksi penolakan warga sekitar terhadap rencana pembangunan TPST ini, padahal Pemkab Lobar mengklaim sudah melakukan sosialisasi kepada warga sekitar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lobar, Budi Darmajaya mengatakan, pembangunan TPST itu molor dari jadwal karena ada kendala perlu menunggu selesai panen dan adanya sebagian warga yang menolak. “Namun, tetap kami lanjutkan, perintah bupati lanjutkan,” tegas dia.

Iklan

Ia mengatakan, penolakan itu diperkirakan karena berlatar belakang politik Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang akan digelar di desa itu. Diakuinya, warga ingin tahu soal TPST ini sehingga pihaknya pun sudah melakukan sosialisasi. Setelah dijelaskan ke warga soal manfaat TPST itu, warga mulai menerima. Bahkan para tokoh di daerah itu setuju dan mendukung dibangunnya TPST ini. “Para tokoh sudah setuju,” klaim Budi.

Untuk pembangunan TPST itu, dianggarkan Rp6,7 miliar. TPST ini langsung dibangun oleh kementerian. Pengerjaan fisik TPST ini sendiri molor dari jadwal, sesuai surat kementerian seharusnya dimulai tanggal 18 Januari 2021 lalu. Pengerjaan molor kerena menunggu panen di lahan itu, dan pengurusan kelengkapannya pembangunan.

Luas areal untuk pembangunan TPST ini sendiri seluas 45 are. Tanah itu merupakan lahan milik Pemkab Lobar. TPST ini sendiri muncul karena ada adanya usulan Musrenbang desa tahun 2016. Surat pemberitahuan pembangunan ini pun terkesan dadakan, itu pun harus mulai dibangun Januari 2021. Namun untuk memulai pembangunan harus menunggu panen selesai.

TPST ini akan menampung 99 Meter kubik dari empat desa yakni Senteluk, Sandik, Batulayar, dan Meninting. Warga Senteluk yang meminta dirahasiakan namanya mengatakan warga menolak dibangunnya TPST di daerah itu. “Kami (warga) tidak setuju, warga sempat demo,” jelas dia.

Bahkan menindaklanjuti aksi itu, diagendakan mediasi, tetapi dari pihak terkait tidak berani datang. Namun, di sisi lain pembangunan TPST tetap dilanjutkan, padahal belum ada titik terang pembahasan dengan warga. Ia mengaku penolakan warga karena khawatir dengan dampak TPST ini, karena bicara program zero waste saja tidak tampak berjalan di lapangan. “Nanti kalau terjadi apa-apa, bagiamana? Warga khawatir,” ujarnya.

Bahkan salah satu yang menjadi perbandingan warga, yaitu penanganan rumah gempa yang rusak. Sampai saat ini belum ada kejelasan dengan alasan dokumentasi hilang. (her)

Advertisementfiling laporan pajak ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional