Diterjang Ombak, Lantai Jemur Rumput Laut Ambruk

Bangunan lantai jemur rumput laut di Kecamatan Poto Tano, KSB ambruk akibat dihantam ombak beberapa hari yang lalu. (SuaraNTB/ist)

Taliwang (Suara NTB) – Sejumlah fasilitas Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) di Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) rusak diterjang gelombang tinggi. Kerusakan terparah terjadi di desa Poto Tano dan dusun Sagena. Dimana, lantai jemur khusus rumput laut  dari hasil pembangunan di tahun 2016 ambruk.

Kepala Dislutkan melalui Kabid Sumber Daya Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (SDPSD-KP) Agusman S. Pt kepada Koran ini, Rabu,  23 Januari 2019 mengatakan, bangunan rusak ini masih terus diinventalisir oleh penyuluh yang ada dilapangan untuk mengetahui total kerusakannya. Khusus untuk desa Poto Tano, kerusakannya mencapai 50 persen dan akan sangat berbahaya jika tetap digunakan oleh petani rumput laut tersebut.

Iklan

Sementara kerusakan di dusun Sagena ditaksir mencapai angka 70 persen dan sudah ambruk sebagian dari bangunan tersebut. Sedangkan untuk lokasi lainnya, hingga saat ini tim masih berada di lapangan melakukan pengecekan lanjutan. Sehingga ketika penanganan terhadap fasilitas ini tidak ada yang ditinggalkan.

“Tim kita masih berada di lapangan melakukan proses pendataan dan pengecekan kerusakan sarana yang kita bangun. Sementara untuk kerusakannya ditaksir mencapai angka puluhan juta,” ungkapnya.

Dikatakannya, kerusakan fasilitas DKP ini terjadi karena hantaman ombak di wilayah Poto Tano. Fasilitas yang rusak ini merupakan sarana yang dianggap sangat penting, karena bertujuan agar produk hasil rumput lautnya berkualitas dan memiliki harga tinggi.

Tentu kerusakan ini bukan hal yang diinginkan. Apalagi, lantai jemur ini sudah digunakan dengan baik sejak selesai dibangun. Adapun yang menjadi penyebab ambruknya lantai jemur ini yakni kikisan ombak di bagian bawah tiang lantai karena rata-rata lokasinya berada di pinggir pantai.

“Kerusakan ini murni akibat bencana bukan karena hal yang lain karena kita sudah gunakan. Karena ini sudah rusak, maka kita juga akan berupaya memperbaikinya agar bisa kembali berguna bagi para petani rumput laut,” imbuhnya.

Ditanya apakah ada rencana relokasi terhadap fasilitas tersebut ke lokasi yang lebih aman, dia mengatakan tidak ada kewenangan dinas tekhnis untuk bisa memindahkan ke lokasi yang baru dan lebih aman. Tetapi jika ada hasil kesepakatan para kelompok budi daya dan desa untuk memindahkan baru bisa dilakukan. Itupun dinas juga tidak akan bisa mengintervensi untuk proses penyediaan lahan yang baru melainkan hanya sebatas membangun fasilitasnya saja. Jika hasil kesepakatan kelompok budidaya bersedia memindahkannya ke lahan baru, maka pihaknya bersedia untuk membangun. Sementara untuk proses penanganan darurat, pihaknya juga akan berupaya mencari solusinya sehingga tidak ada lagi yang dirugikan.

“Kita tetap akan mencari jalan keluar terbaik terhadap persoalan ini supaya bisa kembali berfungsi. Sedangkan untuk pemindahan kita tunggu adanya hasil kesepakatan dari kelompok budi daya dan masyarakat,” tandasnya. (ils)