Diterjang Banjir Rob, Ratusan KK di Sekotong dan Lembar Belum Ditangani

Banjir rob menerjang daerah pesisir Sekotong dan Lembar, terdapat ratusan KK terdampak.

Giri Menang (Suara NTB) – Banjir rob menerjang wilayah Lombok Barat, sejak Kamis, 24 Juni 2201dan Jumat, 25 Juni 2021. Tujuh dusun di dua desa diterjang banjir rob. Warga khususnya di Daerah Cemare Lembar mengeluh lantaran hingga dua hari terdampak banjir rob belum ada penanganan dari pihak Pemda.

Data sementara yang diperoleh dari pihak desa terdapat 626 kepala keluarga (KK) dengan ribuan jiwa diperkirakan terdampak. Masing-masing tersebar di Dusun Telaga Lupi 65 KK, Bangko Palut Dusun Medang 45 KK, Jerenjeng 30 KK, Batu Leong 30 KK, Batu Kijuk 25 KK, dan Pandanan Bersemi 20 KK. Ditambah lagi di Dusun Cemare Desa Lembar Selatan 411 KK dengan 1.379 jiwa yang terdampak.

Iklan

Kepala Desa Lembar Selatan, H. Beni Basuki mengatakan, banjir rob menerjang Dusun Cemare Sejak Kamis, 24 Juni 2021. “Sejauh ini belum ada bantuan ke warga,” jelas H. Beni, Jumat, 25 Juni 2021.

Banjir rob susulan kembali menerjang Jumat, 25 Juni 2021pagi. Hingga berita ini dirilis, air masih menggenangi pemukiman warga. Untuk penanganan, lihaknya sudah mengusulkan ke Pemda agar segera mendrop bantuan logistik ke korban terdampak. Saat ini korban Terdampak butuh logistik karena kondisi rumah terendam. Sedangkan untuk penanganan jangka panjang, talud sepanjang pesisir bagian timur mengarah ke selatan perlu ditinggikan sekitar setengah meter.

Penanganan jangka panjang berasal dari bantuan Pelindo, tetapi dana belum ditransfer. Pihaknya juga akan mengupayakan dana penanganan melalui dana desa. “Insya Allah tahun depan kami akan upayakan untuk talud, Kami mau naikkan sekitar setengah meter,” ujarnya.

Sementara itu, Kades Sekotong Barat, Saharudin mengatakan, daerah yang terdampak banjir rob tidak hanya di Telaga Lupi, tetapj ada banyak Terdampak. “Karena kondisi cuaca buruk ini, ada enam Dusun di desa kami terdampak,” jelas Saharudin.

Ia menyebut daerah terdampak, yaitu Dusun Telaga Lupi, Bangko Palut Dusun Medang, Jerenjeng, Batu Leong, Batu Kijuk, dan Pandanan Bersemi. Pihaknya berharap lenanganan segera dilakukan pemerintah.

Sementara itu, Anggota DPRD Lobar dari daerah pemilihan Lembar-Sekotong, Abubakar Abdullah mendesak pemerintah segera melakukan penanganan baik jangka pendek dan panjang. Ia menilai bahwa banjir rob itu merupakan dampak dari reklamasi pembangunan yang ada di Pelabuhan Gili Mas milik PT. Pelindo II. “Tergenangnya sebagian Kawasan Pantai Cemara merupakan dampak pembangunan dan pengembangan Kawasan di Pelindo,” tudingnya.

Atas kondisi itu, Abubakar meminta adanya perlakuan yang serius dari pemerintah baik itu Pemprov NTB maupun Kabupaten Lobar untuk menanganinya. “”Entah itu melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) maupun Pelindo. Warga yang terdampak itu tidak sedikit,” ungkapnya.

Politisi PKS itu menyatakan bahwa saat ini masyarakat membutuhkan penanggulangan dampak lingkungan. Menurut dia, kawasan Pantai Cemara merupakan sebuah mawasan kepulauan yang kalau dikemas dengan serius dan terukur tidak akan kalah dengan daerah kepulauan lain semisal Gili Trawangan dan yang lainnya. “Kalau dikemas dengan baik, itu menjadi lokasi yang bagus. Bisa seperti gili-gili yang lain,” imbuh pria asal Gili Gede Indah Sekotong itu.

Terpisah, Kalak BPBD Lobar, Mahnan mengatakan, banjir rob atau naiknya air laut terjadi dibeberapa titik di Lobar. Oleh BPBD Lobar, kejadian itu dianggap siklus tahunan yang memang selalu terjadi. Namun demikian, dari laporan yang diterimanya, masyarakat sejauh ini masih beraktivitas seperti biasa. Pihak BPBD Lobar, kata dia pun telah siap dengan konsekuensi yang ada bila cuaca ekstrim ini berlanjut. “Kalau memang perlu, kita akan lakukan evakuasi,” tegasnya.

Tak hanya itu, Mahnan mengakui bahwa pihaknya pun sudah siap akan ketersediaan logistik. Tak hanya itu, dirinya pun masih menunggu informasi selanjutnya. “Kalau memang perlu dibuat tanggul penahan gelombang, kami sudah koordinasi dengan dewan Provinsi NTB dapil Lobar yang siap membantu untuk membawa Pokirnya untuk itu,” lanjutnya.

Selain di pantai Cemara, banjir rob juga terjadi di pesisir pantai Kuranji dan juga di wilayah Sekotong Barat. “Tim kami sudah turun di lokasi-lokasi dimaksud. Kita masih pantau, kita siaga darurat. Tapi kalau nanti dampaknya berpengaruh bagi aktivitas masyarakat, kita tentu akan ambil tindakan,” jelasnya.

Terkait kondisi saat ini, lanjut Mahnan, ada sekitar 300 sampai 600 KK yang terdampak banjir rob tersebut. “Masih tergenang saja, belum ada laporan kerusakan. Yang terdampak 300 sampai 600 KK,” imbuhnya.

Adanya pernyataan dari salah seorang anggota Dewan Lobar yang menyatakan bahwa banjir rob itu terindikasi akibat reklamasi pembangunan yang dilakukan PT. Pelindo, Mahnan mengatakan bahwa informasi semacam itu memang perlu untuk ditindaklanjuti. “Cek dulu Amdal-nya, tetapi masa sebesar proyek Pelindo tidak mengindahkan dampak alam. Saya yakin sudah ada, tetapi sinyal yang disampaikan dewan tetap kita tindaklanjuti,” pungkasnya. (her)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional