Ditelantarkan Kontraktor, Dua Kali Tanam Pisang, Warga Busur Tagih Pemda KLU

Warga Busur Timur protes jalan rusak belum diperbaiki Dinas PU dan Kontraktor. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Warga Busur dan Busur Timur kembali menanam pisang di ruas jalan Dusun Pawang Busur, Desa Rempek Darussalam, Kecamatan Gangga. Warga sangat kecewa, sebab sejak dibangun pada akhir 2019 lalu, ruas jalan rusak tersebut hanya berumur 2 pekan. Alih-alih diperbaiki pada masa pemeliharaan, Pemda KLU c.q Dinas PUPR KLU selaku pemilik program terkesan melakukan pembiaran kepada kontraktor pelaksana.

Belasan warga setempat, kembali menghubungi koran ini untuk mengekspose kondisi jalan yang ditelantarkan Dinas dan Kontraktor tersebut. Pasalnya menurut warga, dengan masa pemeliharaan yang sudah berakhir (maksimal bulan Agustus 2020), maka status pekerjaan dikhawatirkan diterima begitu saja untuk meraup opini WTP.

Iklan

Koran ini pernah memberitakan kondisi ruas jalan tersebut pada 14 Februari lalu. Akses jalan tersebut senilai Rp 3,6 miliar, bersamaan dengan ruas jalan Dusun Buani, Desa Gondang – kecamatan Gangga dan jalan Dusun Sumur Pande, Desa Sesait – Kecamatan Kayangan.

Kerusakan pada ruas jalan, terlihat dari titik nol (pertigaan Dusun Busur) hingga kisaran 400-500 meter dari total ruas 1,1 km jalan lapen.

Warga sudah sangat lama berharap ada program pengaspalan di wilayah itu. Mengingat, akses jalan ini menghubungkan warga lintas desa Rempek Darussalam dan Desa Rempek.

“Penanaman ini sudah dua kali. Tuntutan dari masyarakat, bukan menuntut yang bersangkutan (kontraktor), tetapi (mengajak Pemda KLU) tanam pisang di tengah-tengah jalan ini,” sindir Amaq Mu’min alias Amaq Bilun.

Sindiran itu dilontarkan warga, karena adanya bukti tidak adanya respon Pemda KLU untuk menegur, atau memerintahkan kontraktor memenuhi tanggungjawabnya memperbaiki jalan. Warga beranggapan, kepedulian dan tanggung jawab Pemda untuk mengawasi pekerjaan secara benar, tidak terimplementasi pada jalan yang rusak hanya dalam hitungan hari.

“Kami warga, sampai rela membebaskan jalan secara gratis. Kalau di tempat lain, mungkin dibayar dengan APBD. Saat itu, Kadus kerja keras untuk mengumpulkan tanda tangan selama 2 bulan,” sambung warga lain, Kersadi.

Pantauan koran ini, ruas jalan tersebut sudah tidak berbentuk selayaknya jalan aspal (lapen). Pasir sudah tergerus erosi. Bebatuan sekepalan tangan, dan kerikil tajam berserakan.

“Pertama diberitakan dulu, kami hanya diantarkan aspal 5 drum oleh kontraktor. Tetapi tidak langsung dikerjakan dengan alasan menunggu lalu lintas kendaraan RTG selesai. Kenyataannya, sampai sekarang tidak diperhatikan,” cetus warga Busur, Samsul.

Sebelumnya, Plt. Kepala Dinas PUPR KLU, Kahar Rizal, ST., mengakui sudah menurunkan tim untuk melihat kondisi jalan tersebut. Ia juga mengakui, sesaat setelah diperiksa, rekanan yang mengerjakan jalan tersebut telah dihubungi. Hanya saja, ia tidak mengetahui apa kendala sehingga kontraktor tidak melaksanakan kewajibannya.

Pada aksi tanam pisang pertama oleh warga, Kahar yang juga PPK proyek tersebut, tegas menolak semua alasan yang disodorkan rekanan. Misalnya, kerusakan akibat faktor alam, maupun rusak akibat lalu lintas kendaraan pengangkut material RTG.

“Bagi kami itu tidak alasan. Mereka harus bertanggung jawab sesuai dengan masa pemeliharaan, ini kan masih ini (periode pemeliharaan),” sebutnya.

Ia mengklaim, rekanan sudah berkomitmen untuk memperbaiki. Bahkan dalam satu dua hari saat itu (bulan Februari), rekanan akan turun ke lokasi melakukan perbaikan. (ari)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional