Ditangkap, Waria Jual Jasa “Pijat Plus-Plus” Pakai Akun Palsu Wanita

Pelaku pemakai akun palsu untuk jasa pijat, Rh (kiri) menjawab interogasi penyidik Unit PPA Satreskrim Polresta Mataram, Senin, 8 Juni 2020.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Aplikasi pesan instan dipakai seorang waria berinisial Rh (25) untuk menyamar. Ia menawarkan jasa pijat plus-plus. Untuk memikat lelaki, Rh mencatut foto teman wanitanya semasa SMP. Modusnya berhasil juga. Tampak dari korbannya yang sampai 40 orang.

Dalam akun pesan instan MiChat, Rh memakai alias palsu. Foto profil pun hasil catutan. Lewat akun itu, Rh menawarkan paket jasa pijat seharga Rp150 ribu. “Di akun itu dia menjadi wanita, tapi aslinya laki-laki,” kata Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa, Senin, 8 Juni 2020.

Iklan

Identitas di KTP, jenis kelamin Rh masih laki-laki. Tapi dia punya kelainan orientasi seksual sehingga berlagak sebagai wanita. Rh memulai petualangan bisnis pijatnya dengan mencomot 10 foto di akun Facebook teman wanitanya.

“Foto orang lain yang lebih menarik dipakai untuk memikat pelanggan,” kata Adi.

Para pelanggan pun berdatangan. Rh hanya menerima jasa di kamar kos di kawasan Dasan Agung, Selaparang, Mataram. Per-orang, ditarik ongkos pijat Rp150 ribu. Di tengah layanan pijat, Rh pun menawarkan jasa plus-plus.

Itu pun dengan syarat. Pelanggannya bersedia melakukan adegan dengan kondisi kamar gelap. Lampu kamar dimatikan. Juga, dengan Rh yang mengenakan penutup kepala. Tujuannya, untuk menutupi kumis dan jakunnya. Ada saja pelanggannya yang mau.

“Dia beraksi selama sebulan terakhir. Dari pengakuannya, dia sudah memikat 40 pelanggan. Kasus ini terungkap setelah ada pelanggan yang merasa tertipu,” ungkap Adi.

Selain itu, pemilik foto yang dicatut juga gerah. Sebabnya, banyak percakapan masuk lewat fitur pesan langsung mengajak si pemilik foto dengan ajakan seronok, seperti mengajak check-in. Pesan juga masuk dari orang yang bukan lingkaran pertemanan Facebook-nya.

Tim cybertroops Satreskrim Polresta Mataram menelusuri duplikasi foto tersebut. Foto diri korban akhirnya ditemukan dipakai Rh. Keberadaan Rh terlacak. Yang kemudian ditangkap dengan kondisi masih mengenakan jilbab. “Memang begitu modusnya dia kalau ketemu pelanggan,” beber Adi.

Rh ketika diperiksa tidak banyak membantah. Dari 40 pelanggan yang sudah dilayaninya, dia meraup untung sampai Rp10 juta dalam satu bulan belakangan ini. “Ada kakak saya, tapi yang mengurus ibu selama ini hanya saya. Uangnya untuk kebutuhan sehari-hari saya sebagai tulang punggung keluarga,” aku Rh.

Rh bakal dijerat dengan UU RI No19/2016 tentang perubahan atas UU RI No11/2008 tentang ITE. Saat ini Rh masih menjalani pemeriksaan di Unit PPA Satreskrim Polresta Mataram. (why)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional