Distanbun NTB Tegaskan Stok Pupuk Aman di Musim Tanam Kedua

Ilustrasi penyaluran pupuk subsidi di NTB.

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB telah melakukan sejumlah persiapan guna menjamin musim tanam padi kali ini berjalan lancar. Sebab, petani di NTB telah memasuki musim tanam kedua bulan April 2021 ini.

Penegasan itu disampaikan Kepala Distanbun Provinsi NTB, Muhammad Riadi dalam rilis yang diterima redaksi Suara NTB, Kamis, 1 April 2021. Menurutnya, saat ini sebagian besar petani di wilayah NTB sudah panen padi untuk musim tanam pertama.

Iklan

“Pada prinsipnya kita di NTB sudah siap untuk musim tanam kedua April ini,” tegas Riadi.

Menurutnya, untuk memastikan soal musim tanam kedua ini, pihaknya dalam waktu dekat akan mengundang berbagai pihak, guna memastikan proses tanam berjalan lancar. Seperti memastikan tidak terjadi kelangkaan pupuk, maka pihaknya akan mengundang para produsen maupun distributor.

“Yang jelas, kita akan pastikan ketersediaan pupuk dengan mengundang distributor-distributor pupuk. Dimana pupuk-pupuk yang mestinya sesuai dengan kuota kebutuhan itu harus sudah ada disini. Nah ini yang belum kita rapat sama mereka, para distributor. Jadi nanti kita akan undang mereka untuk memastikan saja,” ucapnya.

Namun pihaknya meyakini, soal ketersediaan pupuk, para distributor tentu sudah memiliki stok. Pertemuan nanti hanya untuk memastikan, sekaligus perkenalan sebagai pejabat baru Distanbun NTB. “Kita akan memastikan saja nanti. Kalau masalah stok, tentu sudah tersedia,” terang Riadi.

Dijelaskan, untuk pupuk subsidi tahun 2021, jatah kuota pupuk urea bersubsidi bagi petani di Provinsi NTB sebanyak 172.604 ton. Rinciannya, Kota Mataram 586 ton, Kabupaten Lombok Barat 7.375 ton, Kabupaten Lombok Utara 6.394 ton, Kabupaten Lombok Timur 27.569 ton, dan Kabupaten Lombok Tengah 22.197 ton.

Selanjutnya Kabupaten Sumbawa 38.036 ton, Kabupaten Sumbawa Barat 8.880 ton, Kabupaten Dompu 20.936 ton, Kabupaten Bima 40.395 ton, dan Kota Bima 2.363 ton.

Selain itu, pihak Kementan juga memberikan subsidi pupuk terbatas jenis SP36 sebanyak 12.429 ton, pupuk ZA 18.590 ton, pupuk NPK 51.732 ton, pupuk organik granul sebanyak 22.208 ton, dan pupuk organik cair 76.352 ton.

Berdasarkan data yang dimiliki Distanbun NTB, saat ini baru sekitar 7.796 hektar luas lahan tanam yang sudah panen. “Sekitar 37.410 ton hasil produksi yang sudah panen, tersebar di seluruh kabupaten/kota NTB,” jelas Riadi.

Diperkirakan total luas lahan tanam yang akan panen hingga bulan Mei 2021 mendatang, sekitar 188.026 hektar, atau sekitar 907.390 ton. “Tapi itu masih angka estimasi,” beber Riadi.

Kemudian dari sisi benih, tentu sesuai dengan alokasi setiap tahun bisa tercukupi. Karena soal benih ini tidak hanya benih yang berasal dari NTB saja, tetapi untuk memenuhi kebutuhan juga didatangkan dari luar daerah agar tidak terjadi kelangkaan.

“Kalau masalah benih padi juga kita sudah siapkan. Terutama benih subsidi yang setiap tahun kita sudah alokasikan,” beber Riadi.

Disamping itu, pihaknya juga sudah sering melakukan imbauan-imbauan kepada masyarakat, khususnya para petani melalui para penyuluh pertanian. Pada musim tanam kedua ini agar memperhatikan soal lahan pertaniannya.

“Kita sudah sering ingatkan kepada para petani, agar menanam sesuai areal yang direkomendasikan. Sehingga potensi kegagalan dapat diminimalisir di musim tanam tahap dua sekarang ini. Jangan sampai menanam, kemudian datang musim kemarau, lahannya kekeringan,” ucapnya.

Namun semua tentu kembali kepada para petani sendiri, sambungnya, karena tidak bisa juga memaksa orang dengan Undang-Undang Budidaya.

“Dulu sebelum ada UU Budidaya, kalau ada kerusakan kita bisa kerahkan aparat untuk membantu. Tapi sekarang kita tidak berani, salah kita nanti. Sebab, mereka punya pilihan mau tanam atau tidak.Tapi sekali lagi pada prinsipnya kita siap untuk musim tanam kedua ini,” tegas Riadi.

Riadi juga berharap, pada musim tanam kedua ini tidak terjadi serangan hama penyakit, dan kalau pun ada dapat dikendalikan sejak dini. Kemudian diharapkan juga kondisi cuaca hujan bisa bersahabat, tidak terjadi kekeringan. Sehingga pada musim tanam kedua ini tidak sampai terjadi gagal panen.

“Tentu harapan kita produktivitas tanaman padi nanti menjadi lebih baik. Baik berupa angka-angka tanam yang kita targetkan, dan juga angka-angka produksi bisa terwujud,” harapnya.

Disinggung soal luas lahan pertanian di NTB saat ini, kata Riadi, diakui memang telah terjadi pengurangan lahan untuk areal tanam. Hal ini terjadi lantaran semakin menyempitnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan.

“Ya kalau kita lihat setiap tahun tentu terjadi pengurangan. Baik yang disebabkan karena alih fungsi lahan dan lainnnya,” tutur Riadi. (r)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional