Distanbun Lakukan Pengendalian Dini Hama Padi Bersama BPTH NTB

Petugas dari BPTPH NTB menyerahkan bantuan insektisida kepada kelompok tani Nangka 3 Desa Matua yang terkena hama tenggerek batang, Selasa, 22 September 2020.(Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu melakukan upaya pengendalian dini hama penggerek batang pada tanaman padi petani di kelompok Nangka 3 Desa Matua kecamatan Woja. Gerakan pengendalian massal (Gerdal) hama penggerek batang padi bersama petani ini melibatkan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB melalui Balai Pengendalian Tanaman Pangan dan Horti (BPTPH) NTB, Selasa, 22 September 2020.

Petani pada kelompok tani Nangka 3 di Dusun Selarapang Desa Matua ini langsung diedukasi oleh tim ahli dari BPTPH NTB untuk pengendalian hama. Mulai dari pilihan waktu penyemprotan insektisida, takaran obatnya dan keselamatan saat melakukan penyemprotan. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari petani, karena masing – masing petani langsung dibagikan insektisida untuk pengendalian hama.

Iklan
Petani melakukan penyemprotan insektisida pada tanaman padi di kelompok Nangka 3.(Suara NTB/ula)

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Ilham, SP melalui sekretaris Dinas (Sekdis), Syahrul Ramadhan, SP yang langsung turun ke lapangan bersama tim dari BPTPH NTB mengungkapkan, dari 25 ha luas tanaman padi kelompok Nangka 3 tidak semua diserang hama penggerek batang padi, tapi hanya sekitar 1-2 ha dan itupun hanya spot – spot tanaman padi yang terkena. “Secara total dalam 1 ha itu tidak kena semua, tapi spot – spot. Satu hamparan ini kami langsung obatnya,” katanya.

Syahrul yang didampingi Kepala bidang P2P Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu ini mengungkapkan, pihaknya memiliki dokter tanaman yaitu PHP atau petugas organisasi pengendalian tanaman. PHP di Dompu dikoordinir Ramak, SP dan di setiap Kecamatan ada petugasnya untuk perkebunan maupun pangan. “Mereka ini punya ilmunya. Tapi ketika tanaman sakit, tidak lagi sifatnya memberikan bantuan, tapi memberikan rekomendasi teknis saja,” katanya.

Setelah mengidentifikasi hama penyakit, PHP juga bekerjasama dengan PPL (petugas penyuluh lapangan) untuk mengedukasi petani. Ketika POPT sudah teridentifikasi, maka harus jelas dan tepat obatnya. Dosis dan caranya pun harus tepat. “Pengendaliannya minimal di jam 8 (pagi) setelah tidak ada embun, atau sore hari, supaya efektif,” ungkap Syahrul.

Syahrul juga menyampaikan, gerakan ini sudah menjadi rutinitas pihaknya dalam mengendalikan hama pada tanaman pangan. Jadi bukan hanya pada tanaman padi, tapi juga pada tanaman jagung, kadalai, dan lainnya. Petugas PHP ini yang melaporkan ke BPTPH ketika menemukan hama penyakit pada tanaman untuk diteliti lebih lanjut, sehingga obatnya jelas. (ula/*)