Disperindag Dompu Sebut Petani Enggan Jual Jagung ke Pengepul

Dompu (Suara NTB) – Kabid Perdagangan Disperindag Kabupaten Dompu, H. Iskandar mengaku, sudah terjun langsung ke lapangan terkait gejolak harga jagung yang dikeluhkan petani akhir-akhir ini. Hasilnya, petani kini enggan menjual hasil jagung pada para pengepul dengan alasan merugi berlipat ganda. Mereka rata-rata memilih menjual komoditi unggulan tersebut langsung ke gudang.

“Sekarang petani ndak dia mau pakai pengepul, rata-rata langsung bawa ke gudang lebih enak,” kata dia kepada Suara NTB beberapa waktu lalu.

Iklan

Sikap yang diambil petani itu menyusul kekhawatiran akan mengalami kerugian berlipat ganda, mulai dari permainan alat timbang, penyesuaian jarak dengan harga pembelian sampai permintaan jatah untuk setiap kali penimbangan dengan berat tertentu.

Berbeda halnya ketika petani langsung ke gudang, selain alat timbangnya bisa dijamin keakuratannya juga harga pembelian sesuai bahkan melebihi standar HPP. “Jadi lebih enak dia sewa truk langsung timbang ke gudang,” ujarnya.

Iskandar menyebutkan, harga pembelian jagung di gudang saat ini berkisar Rp3.100-Rp3.200/Kg dengan kadar air 16-17 persen. Harga tersebut sudah sesuai bahkan melebihi standar acuan pembelian yang ditentukan pemerintah, yang mana jagung dengan kadar air 15 persen Rp3.150/Kg, kadar air 20 persen Rp3.50/Kg, kadar air 25 persen Rp2.850/Kg dan kadar air 35 persen Rp2.500/Kg.

Praktik yang biasanya diterapkan para pengepul, tambah dia, untuk setiap satu kali timbangan mereka memotong berat jagung 1 Kg. Sehingga petani kebanyakan menolak dengan alasan takut rugi di tengah biaya produksi yang tinggi.
“Timbangan dia (pengepul, red) dua karung-dua karung dia potong 1-2 Kg per satu kali timbang, kan petani banyak yang ndak mau lebih enak dia pakai jembatan timbangan karena ndak ada potongan dia,” jelasnya.

Dengan beralihnya petani menjual hasil komoditi unggulan itu para pengusaha gudang pun ditekankan pihaknya agar tidak bermain-main, setiap kali penimbangan harus dicetak hasilnya sebagai bukti. Sehingga klaim yang muncul nantinya dapat dengan mudah diatasi.

“Kalau tidak ada print-out jangan coba-coba timbang, nanti terjadi klaim nah repot kamu orang. Syukur klaim ngomong saja tapi kalau dia bakar gudang kan repot,” pungkasnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here