Disperbun akan Tegur Distributor yang Belum Salurkan Pupuk Subsidi

Nurma. (Suara NTB/Uki)

Bima (Suara NTB) – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Disperbun) Kabupaten Bima akan menindaklanjuti informasi dari Kepala Desa Sakuru Kecamatan Monta yang mengeluhkan belum disalurkannya pupuk subsidi selama empat bulan oleh Distributor.

“Keluhan Kades Sakuru terkait belum disalurkan pupuk ini, akan kita tindaklanjuti secepatnya. Jika melanggar kita akan berikan teguran dan surat peringatan,” kata Kepala Disperbun Kabupaten Bima, Hj. Nurma M.Si, Rabu, 1 September 2021.

Iklan

Tidak hanya itu lanjut Nurma, pihaknya juga akan menelusuri persoalan sama yang terjadi di Desa lain. Karena tidak menutup kemungkinan terlambatnya penyaluran  pupuk subsidi di Desa Sakuru juga terjadi di Desa lain.

“Kita akan telusuri, mengecek semua Desa-Desa. Jangan sampai persoalan yang sama juga terjadi di Desa lain selain Sakuru,” katanya.

Nurma menegaskan persoalan pupuk subsidi memang akan menjadi prioritas kinerjannya kedepan. Terutama persoalan data e-RDKK serta sistem penyaluran pupuk yang dianggap bermasalah setiap tahun.

“Saya belum seminggu dilantik jadi Kepala Disperbun. Dan program saya kedepan memperbaiki data dan penyaluran pupuk selama ini,” katanya.

Disamping itu, Nurma mengingatkan kepada petani dan Kepala Desa agar segera melaporkan ke pihaknya, jika ada pengecer atau distributor yang menjual pupuk subsidi tidak sesuai harga eceran tertinggi (HET).

“Segera laporkan jika harga pupuk tak sesuai HET atau petani dipaksa membeli pupuk subsidi dan non subsidi. Kita akan proses sesuai aturan,” ujarnya.

Selain itu, Ia juga menghimbau para pengecer dan distributor pupuk untuk tidak mengambil keuntungan sepihak, dengan menjual paketan pupuk subsidi dan non subsidi kepada subsidi.

“Tidak boleh ada yang menjual paket-paketan. Selain merugikan petani, penjualan secara paketan juga melanggar aturan,” ujarnya.

Seperti diberitakan Suara NTB sebelumnya Kepala Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima, Muhammad Suharto S.Pd, mengaku geram lantaran kouta pupuk subsidi untuk petani di Desanya hingga kini belum disalurkan oleh pihak Distributor.

“Sudah empat Bulan jatah pupuk subsidi untuk petani Desa Sakuru belum juga  disalurkan oleh Distributor,” ungkapnya penuh kesal, kepada Suara NTB, Selasa, 31 Agustus 2021.

Ia mengaku, dirinya bersama pengecer pupuk di Desa Sakuru sudah beberapa kali menghubungi pihak Distributor, mempertanyakan kendala penyaluran pupuk subsidi itu. Hanya saja, hingga saat ini belum ada jawaban.

“Kami sudah berupaya menghubungi Distributor menanyakan kendala penyaluran pupuk subsidi ini. Tapi belum ada jawaban alias tidak ditanggapi,” ujarnya.

Karena belum jelas penyaluran, sedangkan pupuk sangat dibutuhkan, para petani di Desa Sakuru terpaksa menggunakan pupuk non subsidi, yang dibeli di pasar dengan harga yang sangat mahal.

“Petani kita terpaksa menggunakan pupuk non subsidi untuk memupuk tanaman mereka, yang dibeli dengan kisaran Rp300 ribu persak,” katanya.

Suharto mengaku pupuk menjadi kebutuhan penting dan sangat utama bagi Desa Sakuru. Pasalnya kebanyakan warganya berprofesi sebagai petani, yakni petani padi, bawang merah, sayur-mayur hingga kedelai.

“Petani di Desa Sakuru rata-rata menanam tiga kali setahun, yakni MH1, MH2 dan MH3. Sedangkan kebutuhan pupuk sekitar tujuh ton perMH,” ujarnya. (uki)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional