Dispar Tak Khawatir Ancaman Resesi

0
H. Nizar Denny Cahyadi. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi negatif pada triwulan II. Hal ini dikhawatirkan berdampak pada investasi serta sektor jasa dan perdagangan. Berbeda halnya dengan Dinas Pariwisata justru tidak terlalu mengkhawatirkan ancaman resesi.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menyampaikan, ancaman resesi tidak sama seperti krisis tahun 1998. Saat ini, daya beli masyarakat masih tinggi meskipun resesi bakal menjadi kenyataan. Bahkan, masyarakat yang memiliki uang memilih untuk berlibur.

IKLAN

Justru yang dikhawatirkan bagi sektor pariwisata adalah tetap meningkatnya jumlah pasien Covid-19. Jika peningkatan jumlah pasien Covid-19 tetap terjadi maka pariwisata tidak akan berjalan. “Justru saya tidak mengkhawatirkan resesi. Meskipun resesi dan warga masih ada sisa uang, maka mereka akan berlibur. Malah yang saya khawatirkan kalau jumlah pasien positif terus meningkat tiap hari,” kata Denny ditemui, Kamis, 1 Oktober 2020.

Laporan diterima Dispar sampai akhir September, okupansi atau tingkat hunian hotel 30 persen. Kondisi ini menggambarkan bahwa kunjungan wisatawan meskipun di tengah pandemi Covid-19 cukup bagus. Selain itu, destinasi wisata selalu ramai dikunjungi wisatawan. Artinya kata Denny, ini menunjukkan dampak positif bagi pelaku pariwisata. “Saya kira ini menunjukkan dampak positif,” ucapnya.

Pihaknya berupaya membangun semangat agar wisatawan mau berkunjung ke Mataram. Pandemi Coronavirus Disease menjadi kendala untuk bisa berpromosi secara langsung kepada pelaku wisata maupun wisatawan. Kendala ini dimanfaatkan dengan melakukan pembenahan terhadap destinasi wisata. “Yang kita jual adalah promosi destinasi wisata. Sekarang ndak bisa kita promosi secara langsung,” ujarnya.

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh sebelumnya malah mengkhawatirkan ancaman resesi. Pasalnya, posisi pengusaha perhotelan, kuliner serta pelaku usaha kecil menengah terdampak oleh Coronavirus Disease atau Covid-19. Hal ini mempengaruhi aktivitas ekonomi yang berimbas terhadap pengurangan pekerja oleh perusahaan.

Menurutnya, salah satu cara menekan jika resesi menjadi kenyataan adalah dengan menyiapkan dana likuid atau uang tunai. Selain itu,masyarakat juga perlu mengatur pengeluaran.

Dari sisi ekonomi, Pemkot Mataram mengintervensi dari stimulus ekonomi dengan memberikan bantuan jaring pengaman social (JPS) bagi warga terdampak Covid-19. Di satu sisi, kucuran anggaran JPS satu kali pendistribusian sekira Rp8,6 miliar. Sementara, dana tidak terduga yang dialokasikan Rp140 miliar sampai akhir 2020 sudah limit. “Saya sedang pikirkan pendistribusian JPS apakah akan dilanjutkan atau sebaliknya. Sedangkan masyarakat terdampak Covid-19 masih membutuhkan,” demikian kata dia. (cem)