Diserbu Warga, Elpiji Subsidi Jadi Sulit Diperoleh

Masyarakat berebut mendapatkan elpiji subsidi isi ulang di SPBU Karang Jangkong. Diduga karena beberapa waktu terakhir masyarakat kesulitan mendapatkan isi ulang di pengecer.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat (konsumen) mengaku kesulitan mendapatkan isi ulang elpiji subsidi (3 Kg). Beberapa pengecer juga mengaku sulit mendapatkan pasokan dari pangkalan sebulanan terakhir.

Siang kemarin, SPBU Karang Jangkong diserbu. Masyarakat datang dari berbagai arah membawa tabung elpiji 3 Kg kosong untuk ditukar dengan tabung yang sudah berisi.

Iklan

Beberapa diantara orang yang berebut ini mengaku untuk kebutuhan dan usaha kecil-kecilannya. Ada yang datang membawa dua tabung, empat tabung, bahkan lebih. Banyak yang menggunakan kendaraan roda tiga.

Petugas SPBU yang melayani nampaknya kewalahan. Salah satu pengecer kepada Suara NTB mengaku sudah sebulan ini kesulitan mendapatkan suplai dari pangkalan.

“Karena musim tembakau,” katanya memastikan. Padahal, musim tembakau belum juga massif dimulai. Pengecer ini mengaku menjual dengan harga Rp20.000/tabung isi ulang.

Sales Area Manager Retail NTB, Mahfud Nadyo Hantoro dikonfirmasi mengatakan sampai saat ini tidak ada kendala dalam penyaluran. Hanya saja mungkin keterlambatan dalam proses distribusi hingga ke tingkat pangkalan.

“Karena ada proses. Tidak bisa langsung-langsung didistribusikan,” ujarnya.

Jika dikatakan stok limit, Mahfud justru mempertanyakan faktor penyebab limitnya. Sebab sampai saat ini, belum ada momen besar yang mengakibatkan tinngginya permintaan masyarakat. sebelum lebaran Idul Adha 1441 H/2020, Pertamina bahkan menyiapkan tambahan sebanyak 52.000 tabung.

Dalam sehari rata-rata penyaluran elpiji subsidi di NTB sebesar 335 Mton sampai 350 Mton. Tidak terjadi lonjakan permintaan. Meskipun diakuinya, pengurangan konsumsi elpiji tabung 50 Kg mengalami penurunan sejak pandemi Covid-19.

Stok elpiji saat ini mencapai 964 Mton. Cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari. Kendati demikian, suplai stok tak pernah berhenti tanpa menunggu cadangan stok menipis.

Dalam waktu dekat, Pertamina bahkan akan melakukan penambahan sebanyak 48.000 tabung pada pekan ini untuk memenuhi kemungkinan lonjakan permintaan.

“Sebenarnya tidak ada masalah dalam stok dan distribusi. Mungkin yang perlu kita ingatkan adalah bagi masyarakat yang kategori mampu, kiranya menggunakan elpiji non subsidi,” demikian Mahfud.

Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Provinsi NTB, I Komang Gandhi mengatakan, jika di suatu wilayah terjadi kelangkaan, diharapkan bersurat kepada pemerintah atau Hiswana Migas untuk diproses dan diajukan penambahan distribusi pasokan ke wilayah tersebut.

“Kalau mau dibilang permintaan tinggi, apa kira-kira momen yang harus membuat permintaan tinggi. Lebaran juga sudah lewat. Kemungkinan menurut hemat saya, masyarakat panic buying. Khawatir terjadi kelangkaan, akhirnya berebut nyari,” ujarnya.

Ia juga mengharapkan stakeholders lainnya bergerak bersama-sama untuk mencari akar persoalannya. Jika terindikasi ada spekulan yang bermain, harusnya ditindak. (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here