Diserang Hama Tikus, Petani Batu Putih Sekotong Gagal Panen

Giri Menang (Suara NTB) – Para petani di wilayah dusun tibu Baru Desa Batu Putih kecamatan Sekotong mengalami gagal panen lantaran lahan pertaniannya diserang hama tikus. Selain itu, terdampak penurunan debet air bendungan Tibu Kuning yang ada di wilayah setempat. Luas lahan yang mengalami gagal panen lumayan luas, mencapai puluhan hektar.

Akibat kondisi ini, petani pun merugi hingga puluhan juta, karena tak mampu menutupi biaya produksi. Petani berharap agar SKPD terkait turun menangani.

Iklan

“Luas lahan pertanian kami yang terkena dampak penurunan irigasi, terserang hama tikus dan burung itu mencapai 50 hektar khusus di dusun Tibu Baru. Petani terpaksa panen muda, akibatnya petani merugi,’’ tegas Munajah Ketua Kelompok Bina Bersama Desa Batu Putih.

Dijelaskan, khusus di dusunnya terdapat 50 hektar yang terkena dampak hama tikus dan burung. Kendala lain, air irigasi bendungan Tibu Kuning yang debet airnya menurun drastis. Air bendungan yang ada sangat terbatas, dikarenakan seharusnya pada musim (MT) II lalu petani tidak menanam padi namun dipaksakan sehingga berpengaruh terhadap debert air beendungan menjadi menurun. Akibatnya banyak padi yang belum bisa matang namun kekurangan air.

Dampak dari ini, terjadi penurunan produksi dan kualitas padi. Akibat fatalnya, petani merugi jutaan hingga puluhan juta. Karena petani tidak bisa menutupi biaya produksi, di mana rata-rata biaya produksi per hektar mencapai Rp 5-6 juta per hektar. Sementara untuk menutupi biaya itu, petani harus mampu memproduksi 6-7 ton per hektar.

“Kalau kurang produksinya maka petani rugi,” jelasnya. Sementara dengan kondisi saat ini petani hanya mampu memproduksi rata-rata 2 ton per hektar.

Pada kondisi normal jelasnya, produksi mencapai antara 4-5 ton per hektar. Untuk menutupi kerugian ini, petani sendiri tak ada usaha lain. Sebagian petani ada yang mencari pekerjaan di sektor lain sebagai buruh namun tempat kerja tidak ada. Ada juga yang mencari kayu dan batu emas. Itu pun kalau ada. “Ada yang turun ke laut, namun tidak yang menjanjikan,” ujar Munajah.

Pihaknya sendiri belum melaporkan hal ini ke pemda, namun telah di-upload melalui media sosial. Pihak dinas terkait sendiri merespon persoalan ini, namun terkendala anggaran. Petani setempat berharap agar diberikan bantuan sumur bor dari Pemda untuk mendukung bercocok tanam di sepanjang musim.

Terkait asuransi bagi petani pihaknya sudah mensosialisasikan namun tidak ada petani yang menanggapi. “Sebab yang bisa mengklaim, yakni petani yang gagal total,” jelasnya.

Kepala dinas Pertanian, H. Muhur Zokhri menyampaikan pihaknya bakal turun melakukan penanganan persoalan ini. Namun demikian perlu dilihat tingkat gagal panennya. “Kita turun bersmaa UPT,”jelasnya singkat. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional