Disembunyikan di Sandal, Sabu Aceh Gagal Diantar ke Napi Narkoba

Ditresnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra menunjukkan barang bukti yang disembunyikan di dalam bagian sandal, Kamis, 30 Juli 2020. Sabu seberat 893,40 gram dari Aceh itu dipesan narapidana kasus narkoba.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Sebanyak 893,40 gram sabu asal Aceh Timur, Aceh batal beredar di Kota Mataram. Polda NTB mengagalkan transaksi dengan menangkap dua kurir, AG (27) dan ME (28). Mereka menyembunyikan sabu pesanan narapidana narkoba itu di dalam sandal.

Direktur Resnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra menjelaskan, sejumlah sabu tersebut dibawa dua tersangka AG dan ME melalui jalur udara. “Sabunya di dalam sandal sehingga tidak terbaca x-ray bandara,” terangnya, Kamis, 30 Juli 2020.

Iklan

AG dan ME warga Seumanah Jaya, Aceh Timur, Aceh berangkat setelah mendapatkan pesanan sabu. Mereka kemudian menyusun siasat penyelundupan. Sabu yang dibawa itu dimasukkan ke dalam sandal. Sabu diletakkan di tengah antara alas kaki dengan lapisan tapak.

Mereka kemudian sampai di Lombok Jumat, 24 Juli 2020 tanpa hambatan. Tetapi rupanya mereka sudah ditunggu tim Subdit I Ditresnarkoba dan BNNP NTB. Keduanya digerebek di sebuah kamar hotel melati di kawasan Cilinaya, Cakranegara, Mataram.

“Sabunya kita temukan di dalam sandal. Sandalnya kita buka di dalamnya ada empat bungkus besar kristal putih sabu. Totalnya 893,40 gram,” beber Helmi. Empat bungkus itu masing-masing seberat 212,16 gram; 235,78 gram; 246,08 gram; dan 199,38 gram.

Dua kurirnya itu akhirnya mengaku mengantarkan pesanan barang seseorang. Dari catatan komunikasi, tim mengembangkan kasus itu ke Selong, Lombok Timur. Didapati bahwa pemesannya adalah LZ alias ZK seorang narapidana kasus narkoba.

“Dia pesannya lewat orang yang menjenguk dia. Meskipun dia belum terima barangnya. Tapi kita sudah dapat bukti kalau dia pemesannya,” imbuh Helmi.

Helmi menambahkan, mereka yang terlibat ini merupakan satu jaringan. Walaupun, AG dan ME dijanjikan upah antar masing-masing sebesar Rp14 juta dari penjual. “Perannya memang mengantarkan barang. Tapi mereka ini bagian dari jaringan,” terangnya.

Para kurir ini rupanya sudah cukup berpengalaman. Ini bukan pengiriman yang pertama kali. “Sudah tiga kali dia kirim. Baru kali ini tertangkap. Yang sebelumnya lebih banyak lagi yang dia bawa. Modusnya sama,” papar Helmi.

Helmi menegaskan, pengungkapan kasus ini belum akan berhenti. Sebab, orang yang diduga sebagai bandar yang memodali pembelian sabu senilai Rp2 miliar belum terungkap. “Untuk para bandar, kalian mungkin bisa lari tapi tidak bisa sembunyi. Saya akan buru semuanya,” tutup Helmi. (why)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here