Dirut Bulog: NTB Bisa Jadi Eksportir Beras

Budi Waseso saat sidak ke salah satu gudang Bulog, Jumat, 28 Februari 2020. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Perum Bulog  menempatkan pembangunan salah satu pusat industri penggilingan dan pengemasan beras terbesar di Indonesia di Pulau Sumbawa. Saat ini, pusat industri itu tengah proses penyelesaian untuk beroperasi. Mesin penggiling ini bisa menjadi masa depan NTB sebagai daerah eksportir beras.

Direktur Utama Perum Bulog, Komjen.Pol.Drs. Budi Waseso (Buwas)  menegaskan hal itu saat inspeksi mendadak (sidak) ke gudang Bulog di Praya Lombok Tengah dan Sweta Kota Mataram, Jumat, 28 Februari 2020 kemarin.

Iklan

Dalam perjalanan sidaknya, Buwas melihat hamparan padi yang dilihatnya dari Lombok Tengah, Lombok Barat hingga Kota Mataram. Menurutnya, padi-padi di Pulau Lombok sangat bagus. Saat ini, padi-padi itu tengah menunggu waktu dipanen. Perum Bulog menurutnya, akan berusaha maksimal menyerap untuk menyelamatkan petani dari spekulan.

Salah satu persiapannya adalah melihat kemampuan gudang untuk penampungan serapan.  Selain untuk pemenuhan kebutuhan beras dalam negeri, Perum Bulog juga telah merencanakan untuk ekspor. ‘’Dalam waktu dekat ini salah satu tujuan ekspor beras adalah Arab Saudi. Saat ini dalam proses penyelesaian administrasi, ‘’ ujar mantan Kabareskrim Polri ini.

‘’Barangnya sudah siap semua. Untuk tahap awal ini 10.000 ton ke Arab Saudi. Tapi nanti yang berikutnya Arab Saudi akan meminta lagi bahkan mereka meminta kontrak sama kita perbulan 100 ton,’’ tambah Buwas.

Ekspor ini akan jalan terus. Meski saat ini negara-negara di dunia telah membatasi penerbangan antar negara karena virus Corona, kata Buwas untuk pengiriman barang tidak ada kaitannya dengan pembatasan lalu lalang manusia saat ini.

Ekspor beras ke Arab Saudi yang dipilih adalah beras dari daerah Sulawesi. Harganya Rp15.000/Kg. Sementara beras dari NTB sedang ditawarkan untuk konsumsi di Bangkok, Thailand.

‘’Di sana banyak masyarakat kita. Sudah kita jajaki. Tapi yang pertama ini sudah menyetujui dengan kualitas dan harga adalah Arab Saudi,’’ jelas Buwas.

Dengan ekspor beras ini, Indonesia menurutnya sudah bisa membuktikan negeri ini tidak lagi mengimpor beras, justru sebaliknya mengekspor. Ini menurutnya membuktikan bahwa beras dalam negeri cukup berkualitas dan banyak peminat dan diterima di luar negeri.

‘’Kalau sudah bisa ekspor, berarti berlebihan berasnya. Kita surplus. Yang lalu kita sempat impor, setelah dua tahun ini tidak impor, bahkan ekspor. Ini suatu kebanggaan,’’ ujarnya.

Jenis beras dari NTB masuk kelas medium untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Jika serapan CBP telah terpenuhi, selanjutnya Bulog akan menyerap beras kualitas premium untuk komersil. Termasuk untuk ekspor.

Ada lima negara yang potensial jadi tujuan ekspor. Beras yang diekspor adalah beras kemasan, ditentukan sendiri oleh calon importir. Untuk Arab Saudi, kemasan yang dipesan dari 5 Kg, 10 Kg, dan beras renceng (sachet).

Buwas juga berbicara stok. Di dalam negeri cadangannya saat ini sebanyak 1,7 juta ton, di NTB sudah mencapai 48.000 ton. Karena itu, beras NTB dikirim ke beberapa daerah , salah satunya ke NTT.

‘’Iya-iya, nanti saya tawarkan beras di seluruh Indonesia keluar negeri. Kalau yang dipilih dari NTB, kita berangkatnya (ekspor) dari sini (NTB). Kan biayanya lebih murah. Dan ini kebanggaan dari NTB, bukti NTB bisa ekspor,’’ demikian Buwas.(bul)