Dirikan Bank Sampah, Perputaran Uang di NTB Rp480 Miliar Setahun

Ilustrasi Bank Sampah di NTB (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov menargetkan seluruh desa dan kelurahan mendirikan bank sampah sebagai salah satu upaya mewujudkan NTB Bebas Sampah (Zero Waste) 2023. Keberadaan bank sampah selain membuat lingkungan menjadi bersih juga mendatangkan keberkahan bagi masyarakat.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB menghitung apabila seluruh desa dan kelurahan telah berdiri bank sampah. Maka perputaran uang hasil penjualan sampah plastik ke bank sampah di NTB mencapai Rp480 miliar setahun.

Iklan

Pasalnya, dalam sebulan perputaran uang hasil penjualan sampah plastik di NTB diperkirakan sekitar Rp40 miliar. ‘’Kalau bank sampah bergerak besok, seluruh desa dan kelurahan. Saya hitung hampir Rp40 miliar sebulan perputaran uang dari sampah plastik saja,’’ ungkap Kepala Dinas LHK NTB, Ir. Madani Mukarom, B. Sc.F, M. Si dikonfirmasi di Mataram, Selasa, 26 Februari 2019 siang.

Produksi sampah di NTB dalam sehari sebanyak 3,5 juta Kg. Dari jumlah produksi sampah sebanyak itu, baru 17 persen atau 600.000 Kg yang dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sisanya, sebanyak 2,9 juta kg dibuang sembarangan. Jika dikalikan harga jual sampah plastik sebesar Rp2.000 – 2.500 per kg, maka dalam sebulan perputaran uang hasil penjualan sampah plastik sekitar Rp40 miliar.

Dengan besarnya perputaran uang dari pemilahan sampah plastik ini, Madani mengaku khawatir tak akan bisa dibayar oleh bank sampah. Sehingga sekarang Pemprov menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi).

Dengan adanya nota kesepahaman ini, Adupi akan menampung dan membeli seluruh sampah plastik yang telah masuk ke bank sampah. Bahkan, kata Madani, Adupi juga berencana akan membangun pabrik daur ulang sampah plastik di NTB.

‘’Ke depannya, kalau potensi besar, kapasitasnya mungkin akan dibangun pabrik daur ulang di sini. Begitu bank sampah bergerak, makanya kita kerjasama dengan Adupi,’’ katanya.

Tahun ini, Pemprov mengalokasikan anggaran dalam APBD murni 2019 untuk membentuk 100 bank sampah di NTB. Sebanyak 100 desa menjadi prioritas dan diberikan bantuan peralatan untuk pengangkutan sampah.

Bank sampah induk diberikan bantuan sekitar Rp300 – 400 juta. Melihat perputaran uang sebesar Rp40 miliar sebulan, maka dana bantuan sebesar itu tak mungkin cukup untuk membayar atau membeli sampah plastik dari masyarakat. Sehingga digandeng Adupi, yang akan membeli berapapun jumlah sampah plastik yang sudah terkumpulkan di bank sampah.

Madani menjelaskan hasil daur ulang sampah yang dilakukan Adupi banyak yang diekspor ke Eropa. Tak menutup kemungkinan, apabila nanti berdiri pabrik daur ulang sampah plastik di daerah ini. Maka NTB akan mengekspor plastik daur ulang.

Madani menambahkan, perputaran uang sebesar Rp40 miliar sebulan itu hanya dari hasil pemilahan sampah plastik. Belum lagi sampah organik yang dapat diolah menjadi pupuk kompos. Ia menyebutkan 60 persen produksi sampah di NTB merupakan sampah organik. ‘’Teknologi pengomposan kita akan dorong,’’ tandasnya. (nas)