Direktur PT WBS, Empat Kali Diperiksa sebagai Tersangka Kasus Benih Jagung

Direktur PT WBS Lalu Ikhwan Hubi (kanan) digiring tim jaksa Kejati NTB naik ke mobil tahanan, Senin, 31 Mei 2021 usai diperiksa sebagai tersangka kasus pengadaan benih jagung 2017.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Penyidik Pidsus Kejati NTB melanjutkan pemeriksaan Direktur PT WBS Lalu Ikhwan Hubi Senin, 31 Mei 2021. Pemeriksaan ini lanjutkan dari pemeriksaan sebelumnya. Ada beberapa materi kasus yang didalami penyidik. “Dia diperiksa sebagai tersangka kasus pengadaan benih jagung 2017. Ini pemeriksaan lanjutan,” terang Juru Bicara Kejati NTB Dedi Irawan dikonfirmasi usai pemeriksaan.

Ikhwan ditahan di Rutan Polda NTB sebagai tahanan titipan jaksa sejak April lalu. Untuk pemeriksaan ini, Ikhwan dijemput tim jaksa dan tiba sekira pukul 10.00 Wita. Kemudian dibawa ke ruang Pidsus Kejati NTB. Pemeriksaan Ikhwan cukup alot. Pemeriksaan baru usai sekira pukul 17.53 Wita menjelang Maghrib. Ikhwan dikembalikan lagi ke sel tahanan Rutan Polda NTB. Meski demikian, Dedi enggan menjelaskan isi pemeriksaan. “Kalau materi pemeriksaan tidak bisa kami sampaikan,” jelasnya.

Iklan

Terpisah, penasihat hukum Ikhwan Dr Ainuddin mengatakan dirinya mendampingi kliennya dalam pemeriksaan sebagai tersangka tersebut. “Ini pemeriksaan yang keempat,” ucapnya. Pemeriksaan tersangka ini setelah penyidik sudah memeriksa saksi-saksi sebelumnya, total saksi yang sudah diperiksa sebanyak 19 orang. selain pemeriksaan tersangka, kasus ini sekarang sedang proses audit kerugian negara.

Dalam kasus ini ini, Ikhwan menjadi tersangka bersama tiga orang lain. Diantaranya, mantan Kadis Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB Husnul Fauzi, pejabat pembuat komitmen I Wayan Wikanaya, dan Direktur PT SAM Aryanto Prametu. Mereka dijerat dengan pasal 2 dan atau pasal 3 UU Tipikor. Dari hitungan sementara penyidik, dugaan korupsi dalam pengadaan benih yang dibiayai APBN ini ditaksir mencapai Rp15,45 miliar.

Modus korupsi proyek senilai total RP48,25 miliar ini diduga terstruktur sejak awal. Mulai dari perencanaan, penunjukkan rekanan, sampai penyalurannya. Akibatnya negara berpotensi dirugikan Rp15,45 miliar. Tersangka Husnul menggunakan pengaruhnya kepada Unit Layanan Pengadaan (ULP) untuk menunjuk langsung PT SAM dan PT WBS untuk mengelola penyediaan benih jagung. PT SAM kemudian mendapatkan proyek pengadaan senilai Rp17,25 miliar untuk pengadaan 480 ton benih. Sementara PT WBS memperoleh proyek Rp31 miliar untuk pengadaan 840 benih.

Husnul lalu mengatur PPK untuk melaksanakan proyek walaupun pada akhirnya tidak sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Spesifikasi benih yang disalurkan tidak sesuai dengan kontrak. Di lapangan, realisasinya bermasalah. Benih jagung tidak punya sertifikat resmi. Dugaannya hasil oplosan dengan benih konsumsi. Hasilnya benih rusak dan tidak tumbuh. (why)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional