Dipimpin TGA, Kota Mataram Menuju Pentas Dunia

Mataram (Suara NTB) – Kota Mataram kini telah berkembang menjadi kota yang terkenal sebagai MICE City. Dari sebuah kota yang memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang kecil, kini Kota Mataram telah menjelma kota yang berstandar internasional.

Selama delapan tahun kepemimpinannya, TGH. Ahyar Abduh alias TGA telah mendorong kemajuan Kota Mataram dalam berbagai sektor. Dalam hal PAD, kemajuan yang dicapai Kota Mataram dalam delapan tahun itu tampak sangat menggembirakan.

Iklan

“Pertumbuhan Kota Mataram bisa kita lihat dari PAD. PAD itu kan dari pajak restoran, hotel. Dulu, (awal) Pak Ahyar memimpin, hanya sekitar Rp112 miliar (per tahun). Sekarang sudah Rp370 miliar lebih dan itu semua ditopang dengan PAD di sektor hotel dan restauran,” ujar H. Mori Hanafi, SE, M.Comm, Calon Wakil Gubernur NTB yang mendampingi TGH. Ahyar Abduh di Pilkada NTB.

Mori mengemukakan, saat ini, di Indonesia terdapat delapan MICE City, salah satunya adalah Kota Mataram. Menurut Mori, Kota Mataram tidak hanya berkembang dari aspek pencapaian pemerintahannya. Sektor swasta, selama kepemimpinan TGA, juga tumbuh dengan cukup nyaman.

“Ini menunjukkan bahwa investasi di Kota Mataram berjalan dengan baik. Nah, kita juga bisa lihat, bahwa Kota Mataram juga salah satu kota yang hidup selama 24 jam. Kota Mataram juga telah tumbuh menjadi kota yang berstandar internasional,” tandas Mori Hanafi.

Mori memaklumi kalau dengan tumbuhnya sektor investasi, hotel, restauran, jasa dan perdagangan ini akan menghasilkan tantangan di sektor lain. Misalnya saja sektor agribisnis.

Sebagai sebuah kota yang fokus pada investasi dan pembangunan fisik, memang sulit bagi Kota Mataram untuk mengembangkan agribisnis. Karena itulah, Mori menilai adalah hal yang wajar jika sektor agribisnis kurang berkembang di Kota Mataram.

“Memang kalau sesuai RTRW, ada bagian-bagian yang harus dilakukan oleh Kota Mataram, dalam rangka pengembangan agribisnis. Tapi seperti kita ketahui bersama, sebagai pusat ibukota, yang disini bukan cuma pemerintah kota, tapi juga ada pemerintah provinsi. Ada perumahan baru, kantor baru, usaha baru. Sehingga Mataram ini harus dikembangkan menjadi capital city,” ujarnya.

Menurut Mori, jika pasangan Ahyar-Mori diberikan kesempatan memimpin NTB, maka pihaknya akan menerapkan kebijakan pemusatan pembangunan sektor agribisnis di Pulau Sumbawa.

“Kalau kami menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur, maka akan kami pindahkan ke Pulau Sumbawa. Karena Pulau Lombok ini kecil. Insya Allah Kota Mataram akan menjadi capital city berstandar international, sehingga kami akan meninggalkan agro industri,” ujarnya.

Mori menilai, sektor pertanian dan agro industri memang harus dikembangkan di NTB, demi mencapai tahapan kemajuan baru.

Selama ini, sektor pertanian memang telah lama menjadi salah satu penyumbang pendapatan terbesar bagi NTB. Sesuai data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 saja sektor pertanian telah menyumbang sebesar 22,86 persen untuk NTB.

Sementara, jika dilihat dari data terbaru pertumbuhan ekonomi hingga triwulan ke II pada tahun 2017 kemarin, sektor pertanian ternyata memberikan kontribusi yang lebih tinggi daripada tahun sebelumnya yakni sebesar 23,16 persen, mengalami kenaikan sebesar 0,3 persen.

“Sehingga, dari berbagai potensi alam yang dimiliki oleh NTB terutama pada bidang pertanian maka sudah seharusnya tren positif ini bisa terus kita pertahankan dengan baik bahkan ditingkatkan untuk tahun-tahun berikutnya,” demikian Mori mengemukakan.

Pasangan Ahyar-Mori meyakini, investasi di sektor pertanian adalah investasi yang riil dan banyak menyerap tenaga kerja. Dengan cara terus memanfaatkan berbagai peluang-peluang investasi sektor pertanian yang akan mampu digarap dengan baik dan lebih kreatif melalui inovasi-inovasi yang akan diciptakan kedepannya, demi kesejahteraan bersama seluruh masyarakat NTB.

Oleh karena itu, pasangan Ahyar-Mori telah mencanangkan berbagai program pada bidang pertanian dan peternakan, dengan tujuan untuk mewujudkan masa depan NTB sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi pertanian yang unggul di masa depan.

Adapun program dimaksud antara lain ; pertama, kartu petani bersubsidi; kedua bantuan teknologi pertanian modern; ketiga, menyediakan fasilitas alat tangkap modern untuk nelayan; keempat, mengembangkan industri pengolahan hasil produksi pertanian, perikanan dan peternakan; dan kelima, menjamin pembelian hasil produksi pertanian (padi dan gabah) saat musim panen. (tim)