Diperkirakan PMI Balik ke NTB Mencapai 30 Ribu Orang

Abri Danar Prabawa. (Suara NTB/bul)

Praya (Suara NTB) – Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Mataram memperkirakan jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau sebelumnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) akan pulang kampung ke NTB mencapai 30.000 orang. Angka ini juga berdasarkan jumlahnya yang berangkat bekerja di luar negeri setiap tahun rata-rata 30.000 orang, hingga 40.000 orang.

Kepala BP2MI Mataram, Abri Danar Prabawa saat mengkampanyekan protokol kesehatan dan batuan paket dari BPJamsostek kepada PMI yang pulang kampung dari bandara Lombok, Selasa, 15 Juni 2021 memaparkan, tahun 2020 lalu, tercatat 16.000 PMI NTB pulang kampung. Lalu pada Januari hingga Mei 2021 ini, sudah 14.000 dicatat pulang kampung. Sebagian besar, adalah mereka yang bekerja di Malaysia.

Iklan

“Belum satu semester sudah mendekati angka pulang tahun 2020 lalu. Makanya perkiraan kami, ada 20.000 sampai 30.000 PMI yang akan pulang tahun ini,” kata Abri. Mereka yang pulang ini adalah pekerja-pekerja yang berangkat tahun 2019 lalu. Dengan asumsi, masa kontrak selama dua tahun. Ada juga yang diperpanjang masa kontraknya sampai tiga tahun. “Nah, kalau yang berangkat dan pulang secara tidak prosedural. Itu tidak masuk dalam hitungan kami. Karena tidak tercatat,” ujarnya.

Besarnya jumlah PMI yang pulang kampung ini kata Abri harus menjadi perhatian bersama. Keadaan sebelum dan sesudah pandemi Covid-19 ini menurutnya berbeda dibandingkan saat tidak pandemi. Jika sebelum pandemi, PMI yang pulang kampung akan dengan mudah balik lagi ke rantauan, saat pandemi ini tidak mudah.

Negara-negara yang menjadi tujuan bekerja sedang menutup diri untuk pengendalian Covid-19. “Sehingga kalau pulang, tidak bisa balik lagi. Ada dua hal yang harus menjadi perhatian. Kalau tidak berangkat lagi, otomatis menambah angka pengangguran. Kalau berangkat, negara penerima sedang tutup, bisa terjadi peningkatan jumlah yang tetap berangkat secara ilegal,” imbuhnya.

Abri memberi contoh, baru –baru ini 29 orang dari NTB digagalkan masuk ke Malaysia melalui Riau. Seluruhnya berangkat secara illegal. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal-hal yang demikian jika kondisinya seperti ini. negara – negara sedang lockdown. Membatasi lalu lalang orang keluar masuk dan negara luar. “Karena itu, harus ada alternatif dari pemerintah,” imbuhnya.

Misalnya, bekerja antar daerah. Ke daerah-daerah yang mengembangkan perkebunan sawit seperti di Kalimantan, dan Sumatera. Abri juga mengatakan, kendati demikian, tetap ada peluang negara-negara diberbagai belahan dunia membuka ruang bekerja bagi tenaga kerja asing. “Masyarakat bisa mendapatkan informasi peluang kerja luar negeri di kanal BP2MI dan Dinas Nakertrans,” demikian Abri. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional