Dinilai Tak Ada Manfaat, Warga Tarlawi Inginkan Dam Besar Bukan Embung

Proyek embung di Desa Tarlawi Kecamatan Wawo Kabupaten Bima yang menjadi salah satu proyek Pemprov NTB tahun 2020 yang menjadi temuan BPK.(Suara NTB/Uki)

Bima (Suara NTB) – Proyek pembangunan prasarana konservasi tanah dan air di Desa Tarlawi Kecamatan Wawo Kabupaten Bima oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB tahun 2020 senilai Rp4.671.536.000,00 ternyata tidak diharapkan oleh warga setempat. Pasalnya, selain kecewa warga setempat juga menilai keberadaan embung tersebut tidak ada manfaatnya sama sekali. Karena yang diinginkan warga setempat bukan embung kecil tapi dam besar yang memiliki saluran irigasi.

‘’Bangunan ini (embung.red) tidak manfaat bagi kami karena tidak ada saluran irigasi,’’ kata seorang warga, Muhsan kepada Suara NTB di lokasi embung, Kamis, 10 Juni 2021.

Iklan

Lebih lanjut Muhsan mengatakan, awalnya warga Tarlawi menyambut baik hadirnya proyek tersebut karena diketahui yang akan dibangun sebuah dam besar yang dilengkapi dengan saluran irigasi. Namun setelah selesai dikerjakan wujudnya berupa embung.

“Awalnya senang, tapi mengetahui hanya embung yang dibangun kami kecewa. Kalau dam besar yang dibangun seharusnya ada saluran irigasinya. Sementara ini tidak ada,” ujarnya.

Ia mengatakan, seandanya proyek yang dibangun tersebut sebuah dam besar dilengkapi saluran irigasi, dipastikan banyak warga yang mencetak sawah baru. Karena di sekitar lokasi embung banyak lahan kosong yang sangat layak dijadikan sawah baru. ‘’Embung sifatnya hanya menahan air hujan. Sementara dam besar menampung air dalam jumlah besar yang bisa dialirkan untuk sawah,’’ ujarnya.

Di samping itu lanjutnya, di area embung tersebut tidak hanya warga Desa Tarlawi yang memiliki lahan, namun juga ada warga Desa Peda serta Desa Teta dan Sambori Kecamatan Lambitu. ‘’Jika proyek ini dam besar, akan dimanfaatkan dengan baik oleh warga empat desa ini,’’ ujarnya.

Warga lain bernama Usman juga mengungkapkan hal serupa. Ia menilai pembangunan dan keberadaan embung tersebut percuma saja karena tidak memberikan dampak positif dan manfaat bagi warga. ‘’Saya yakin satu dua tahun embung ini bakal rusak. Karena banyak lumpur yang turun dari gunung,’’ ujarnya.

Sepengetahuannya, proyek itu dikerjakan kurang lebih tiga bulan. Saat pengerjaannya tidak melibatkan ataupun memperkerjakan warga lokal sebagai tukang atau buruh, meski sempat ditawarkan berulang kali kepada pihak pelaksana. ‘’Semuanya dikerjakan tenaga kerjanya sendiri. Saya sempat tawarin diri jadi tukang tapi ditolak karena ada tukangnya sendiri,’’ ujarnya.

Usman menambahkan, beberapa hari yang lalu, proyek itu kembali dikerjakan. Ia sendiri juga tidak mengetahui alasan dikerjakannya kembali proyek itu. Ia hanya melihat ada mobil truk yang memuat material dan ada tukang bekerja di lokasi proyek. ‘’Kalau tidak salah sehari dua hari kemarin kembali dikerjakan karena ada lalu lalang truk yang memuat material proyek dan tukang,’’ ujarnya.

Pantauan Suara NTB, Kamis, 10 Juni 2021 di lokasi proyek memang terlihat sisa aktivitas pengerjaan proyek. Bahkan sisa semen dan pasir material bangunan masih nampak terlihat berserakan di sekitar lokasi proyek.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pembangunan Prasarana Konservasi Tanah dan Air Tarlawi merupakan salah satu dari 16 proyek Pemprov NTB tahun 2020 yang menjadi temuan BPK.

Terkait temuan BPK tersebut, Kepala Pelaksana BPBD NTB, Ir. Zainal Abidin, M. Si., yang dikonfirmasi di Mataram pekan kemarin mengatakan, sudah meminta kontraktor untuk mengembalikan kelebihan pembayaran atas pengerjaan Pekerjaan Pembangunan Prasarana Konservasi Tanah dan Air Tarlawi.

‘’Saya sudah suruh bayar kontraktornya. Katanya sudah sesuai dengan spek bahkan lebih menurut PPK-nya. Nanti saya cek, sudah dibayar atau belum kelebihan bayarnya oleh kontraktornya,’’ kata Zainal singkat.

Tahun anggaran 2020, BPBD menganggarkan belanja barang yang diserahkan ke masyarakat/belanja hibah barang senilai Rp10.362.420.116,00 dengan realisasi senilai Rp8.635.384.720,00 atau 83,33%.

Anggaran tersebut antara lain direalisasikan dalam bentuk Pekerjaan Pembangunan Prasarana Konservasi Tanah dan Air Tarlawi senilai Rp4.671.536.000,00 sesuai Kontrak Nomor 001/PPK/BPBD.NTB/VI/2020 tanggal 29 Juni 2020 dengan kontraktor CV GM. Pelaksanaan pekerjaan selama 85 hari kalender terhitung dari tanggal 29 Juni 2020 hingga 21 September 2020.

Pekerjaan telah dinyatakan selesai 100% dan diserahterimakan ke BPBD dengan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Nomor 001.5/PPK/BPBD.NTB/IX/2020 tanggal 23 September 2020 yang ditandatangani oleh PPK dan kontraktor. Realisasi keuangan terdiri dari tiga kali pembayaran.

BPK menilai perencanaan pekerjaan pembangunan prasarana konservasi tanah dan air Tarlawi belum memadai. Hasil pelaksanaan cek fisik pada tanggal 8 Februari 2021 menunjukkan bahwa terdapat kerusakan pada dinding kanan kolam olakan dan hilir skoci pintu penguras.

Hasil permintaan keterangan dengan pihak PPK, Konsultan pengawas dan penyedia diketahui bahwa pada awalnya pembangunan Embung Konservasi di Desa Tarlawi, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima merupakan upaya konservasi tanah dan air yang bertujuan untuk menjaga kestabilan dasar sungai (slope) dan menjaga keseimbangan air di hulu DAS. Maka pada tahun 2019 telah  dilakukan studi perencanaan embung konservasi dan ditetapkan site embung yang ideal berada pada titik koordinat 8°35’56.47” Lintang Selatan dan 118°49’24.58” Bujur Timur.

Atas kejadian tersebut, PPK, Penyedia dan Konsultan Pengawas menyatakan bahwa kerusakan yang terjadi pada dinding kanan kolam olakan dan hilir skoci pintu penguras dipastikan bukan karena kegagalan dari struktur bangunan. Dinding kanan olakan dan hilir skoci pintu penguras dibangun dengan konstruksi pasangan batu yang diikat dengan spesi, didesain untuk menahan beban gaya tanah yang berada di belakang pasangan dan tekanan air yang berada didepan pasangan.

Dalam pola operasi sebuah bangunan yang melintang sungai seperti bendungan dan embung dipersyaratkan bahwa saat terjadi peningkatan debit di sungai akibat hujan (banjir) sebaiknya pintu penguras dalam kondisi tertutup untuk menghindari aliran turbulen di bagian hilir penguras. Namun pada Embung Tarlawi saat terjadinya banjir tidak terdapat petugas lapangan yang bertugas menutup pintu penguras sehingga aliran turbulen di hilir penguras embung tidak dapat dihindarkan.

Hasil klarifikasi dengan PPK dan Konsultan Pengawas menunjukkan bahwa dalam proses perencanaan pembangunan embung tersebut belum merencanakan atau memperhitungkan terkait penyediaan petugas operator pintu air. Selanjutnya diketahui bahwa terdapat Surat dari Penyedia kepada Pejabat Pembuat Komitmen Nomor 001/srt-CV.GM/I/2021 perihal laporan kerusakan pekerjaan tertanggal 5 Januari 2021.

Di dalam surat tersebut pihak penyedia menjelaskan bahwa penyedia sanggup dan bertanggung jawab untuk memperbaiki kembali kerusakan-kerusakan tersebut di atas sampai selesai sesuai besaran tingkat kerusakan di lapangan dengan tetap mengacu pada petunjuk gambar dan spesifikasi teknik yang sudah ditetapkan setelah musim hujan, hal tersebut dilakukan mengingat kondisi jalan yang menuju ke lokasi pekerjaan tersebut tidak bisa dilewati serta tingkat kesulitan mobilisasi material dan tenaga kerja.

Atas surat tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen memerintahkan kepada penyedia untuk segera melakukan perbaikan terhadap kerusakan yang terjadi di lapangan sebagaimana yang tercantum dalam Surat Nomor 001.a/PPK/BPBD/I/2021 tanggal 11 Januari 2021 perihal perintah perbaikan pekerjaan.

BPK menemukan kelebihan pembayaran atas Pekerjaan Pembangunan Prasarana Konservasi Tanah dan Air Tarlawi senilai Rp40.397.799,45. Hasil cek fisik menunjukkan bahwa terdapat kekurangan volume atas pekerjaan Pasangan Batu dan Beton K-225 senilai Rp40.397.799,45 dengan rincian sebagai berikut.

Atas kekurangan volume pekerjaan tersebut, pihak PPK, Pemeriksa Inspektorat, Konsultan pengawas, dan rekanan pelaksana telah menyetujui hasil pemeriksaan tersebut sesuai dengan hasil klarifikasi/perhitungan volume pekerjaan bersama pada tanggal 9 April 2021. (uki/jun/nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional