Dinas Dikbud NTB Gelar Musyawarah Kebudayaan

Suasana Musyawarah Kebudayaan dalam rangkaian Gelar Budaya NTB Gemilang yang dilaksanakan Dinas Dikbud NTB pada pekan lalu.(Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB melalui Bidang Pembinaan Kebudayaan menggelar Musyawarah Kebudayaan dalam rangkaian Gelar Budaya NTB Gemilang pada pekan lalu. Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., melalui Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan, Ach. Fairuz Abadi, SH., menjelaskan ada empat tema yang dibahas dalam musyawarah kebudayaan ini.

Setiap tema menghasilkan luaran berbentuk dokumen legal yang akan diwujudkan di tahun mendatang. “Sehingga terencana, terarah, dan terukur, apa yang kita musyawarahkan, diwujudkan di tahun berikutnya. Tidak hanya sebuah dokumen obrolan, tapi jadi dokumen legal. Insya Allah tahun depan kami membuat Peraturan Daerah (Perda) pemajuan kebudayaan daerah sebagai turunan dari undang-undang pemajuan kebudayaan daerah,” kata Fairuz.

Musyawarah Kebudayaan dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Pertemuan pertama pada Selasa, 24 November 2020 bekerja sama dengan RRI, membahas dua tema yaitu Perlindungan dan Pengembangan Cagar Budaya sebagai Wisata Budaya. Menghadirkan Narasumber Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan, Ach. Fairuz Abadi, S.H., Tim Ahli Cagar Budaya Dinas Pariwisata, Siti Sarah, SS., dan Pengelola Cagar Budaya Masjid Kuno Gunung Pujut Lombok Tengah, H. Badrun.

Tema kedua, yaitu Kekayaan Intelektual Komunal dan Warisan Budaya Tak Benda sebagai Pendorong Ekonomi Budaya. Dengan narasumber dari Bidang Hak Kekayaan Intelektual Kanwil  Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia NTB, dan anggota Komisi V DPRD Provinsi NTB, H. Patompo.

Pertemuan kedua dilaksanakan pada Kamis, 26 November 2020 dengan tema Bedah Manuskrip Sasak Samawa Mbojo (Sasambo). Dengan Narasumber, Drs. H. L. Agus Fathurahman, Dosen Undikma, Dr. Lalu Ari Irawan, dan menghadirkan juga Kepala Museum Negeri Mataram, Bunyamin, S.S.

Pertemuan ketiga membahas tema Pengembangan Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional, dilaksanakan pada Jumat, 27 November 2020. Narasumber yaitu Yadi Imansyah, M.Or., dari Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) NTB, Mohammad Syahroni, M.Fis., yang merupakan Dosen Prodi Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Pendidikan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB, dan dimoderatori Kepala Seksi Sejarah dan Tradisi Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Dikbud NTB, Baiq Ellyse Iswandari, S.Sn., MM.

Fairuz menjelaskan, terkait Perlindungan dan Pengembangan Cagar Budaya sebagai Wisata Budaya, pihaknya membahas cagar budaya sebagai destinasi wisata yang akan dikembangkan nantinya.

Di samping itu, mengenai Kekayaan Intelektual Komunal dan Warisan Budaya Tak Benda sebagai Pendorong Ekonomi Budaya. Menurutnya, warisan budaya tak benda bisa memberikan dampak ekonomi. “Karena ada hak atas kekayaan komunal,” kata Fairuz.

Pihaknya berupaya mendorong agar warisan budaya tak benda bisa menjadi sebuah Peraturan Daerah yang memberi kontribusi ekonomi kepada daerah. “Kebudayaan bisa memberi kontribusi daerah. Siapa yang berhak mengambilnya? Bentuknya pajak royalti bagi masyarakat yang memiliki kekayaan dari (berbagai) desain itu,” katanya.

Dalam tema Bedah Manuskrip Sasak Samawa Mbojo (Sasambo). Drs. H. L. Agus Fathurahman mengatakan, ia memberi motivasi kepada guru untuk menggunakan pemahaman kebudayaan sebagai basis untuk melaksanakan tugasnya. “Bagaimana seorang guru bisa bebas melaksanakan tugas pembelajarannya kalau dia pahami betul kebudayaan,” katanya.

Selain itu, Agus Fathurahman menyampaikan, bahwa nusantara sebenarnya memiliki mata rantai yang cukup kuat melalui literasi. Di tradisi literasi masa lalu, mereka menggunakan literasi sebagai tradisi hidupnya. “Jadi semua ditulis sehingga melahirkan karya-karya besar, sekarang ini sebenarnya merupakan catatan dari roang tua sebelumnya.

Ia juga menjelaskan, masyarakat kita mentrasfromasi budaya dan sistem sosialnya melalui tradisi literasi melalui membaca naskah beramai-ramai, menerjemahkannya, sampai kepada interpretasi. “Sehingga pembacan naskah ini sebagai proses transformasi. Kalau ini dilakukan oleh guru sekarang, dia pahami naskah, tradisi, warisan budaya, kemudian dia tularkan kepada siswanya dengan perkembangan sekarang, maka guru sudah melakukan transformasi budaya,” jelas Agus Fathurahman.

Dosen Undikma yang juga Sekjen Majelis Adat Sasak (MAS), Dr. Lalu Ari Irawan, menjelaskan, musyawarah kebudayaan ini untuk meningkatkan kesadaran pihak terkait dari kalangan pendidikan. Dengan menyadari potensi naskah, bisa diadopsi dan dikembangkan menjadi materi ajar.

“Sehingga tidak terasing dari potensi budayanya sendiri. Bahwa generasi muda kita perlu diberikan saluran informasi. Kita memiliki kekayaan di naskah, tidak berbeda dengan kebudayaan lain secara nasional maupun negara lain. Lalu mengapa tidak jadi satu kebanggaan bagi generasi muda kita. Semoga ini bisa dikembangkan dan sekaligus melindungi hak-hak kebudayaan,” jelas Ari.

Di pertemuan ketiga, Yadi Imansyah, M.Or., dari Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) NTB menjelaskan tentang permainan dan olahraga tradisional. Ia menjelaskan, sebagai jati diri bangsa, secara nasional KPOTI dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila meluncurkan istilah yang disebut pancamain, salah satunya permainan tradisional. “Ditanamkan bagaimana menghargai, mencintai alam, dan sesamanya,” katanya.

Di KPOTI pusat, dirancang kurikulum implementasi sebagai media pembelajaran, juga untuk memberikan dampak sehat dan bugar. “Dengan media pendidikan anak-anak bisa mengenal jati diri bangsa, bisa mengenal budaya mereka. Permainan rakyat yang biasanya hanya dibawakan di hari besar, sekarang kita ajak anak-anak mencintai budaya mereka,” katanya.

Mohammad Syahroni, M.Fis., yang merupakan Dosen Prodi Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Pendidikan UNU NTB, menjelaskan bahwa permainan rakyat dan olahraga tradisional, tidak hanya dari segi pendidikan, tapi banyak juga manfaat kesehatan, antara lain dari sisi jasmani dapat membuat badan menjadi bugar dan sehat. Dari sisi rohani, menghilangkan rasa putus asa, tumbuhnya ketajamaan berpikir, kehalusan rasa serta kekuatan kemauan. (ron)