Diminta “Berlari Kencang”, BUMD Dilema

Direktur Utama PT. Jamkrida NTB Bersaing, Indra Manthica (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sepertinya sangat dilematis, ketika pemegang saham memintanya berlari kencang. Di satu sisi, syarat bagi BUMD untuk berlari kencang ini justru tak dipenuhi.

Keberadaan BUMD kini ibarat memecut kuda untuk berlari sekencang-kencangnya, dengan  diberikan pakan dan minum hanya seadanya. Tapi tidak boleh ada alasan bahwa target memberikan keuntungan sebesar-besarnya dan kebermanfaatan kepada masyarakat adalah harga mati, kata Direktur Utama PT. Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) NTB Bersaing, Indra Manthica.

Iklan

Seperti diketahui, Gubernur dan Wakil Gubernur NTB saat ini menggenjot seluruh sisi agar berkontribusi maksimal. Tak terkecuali kepada BUMD. Dari  Kepala Biro Perekonomian, Setda NTB, Nur Aulia, Indra Manthica juga mengaku telah mendapatkan peringatan, agar Jamkrida harus lari se kencang-kencangnya untuk mendukung ekonomi dan pembangunan di daerah.

Tahun 2018 ini, PT. Jamkrida NTB Bersaing mendapatkan target keuntungan penjaminan sebesar Rp 1,5 miliar. Indra Manthica sebelumnya merasa target keuntungan tersebut sangat realistis, melihat pertumbuhan keuntungan Jamkrida Tahun 2017 lalu yang targetnya sebesar Rp1,12 miliar dan terpenuhi. Dengan catatan, penjaminan kredit dari Bank NTB tak hilang.

Tahun 2018 ini, penjaminan kredit dari Bank NTB Syariah praktis hilang. Keuntungan penjaminan 1 sen-pun tak didapatkan. Mengingat, Bank NTB telah konversi penuh dari konvensional ke syariah. Sementara, Jamkrida sampai saat ini tak memiliki unit usaha syariah sebagai syarat bekerjasama.

“Bank NTB ini menjadi sumber andalan Jamkrida. Setelah konversi ke syariah, kita tidak dapat apa-apa lagi,” demikian Indra Manthica kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Senin, 29 Oktober 2018 kemarin.

Ada alternatif agar pasar utama Jamkrida NTB tetap dipertahankan di Bank NTB. yakni, Jamkrida harus membuat unit usaha syariah yang sebetulnya juga telah digagas bersamaan dengan akan dikonversinya Bank NTB. pembentukan unit usaha syariah ini harus menyertakan modal minimal Rp10 miliar. Itupun telah lama di ajukan. Tinggal menunggu keputusan dari eksekutif dan legislatif.

Setelah potensi pendapatan Jamkrida NTB Bersaing hilang di Bank NTB Syariah. Jamkrida hanya mengandalkan potensi pasar penjaminan dari  Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Indra mengatakan, hanya saja BPR tak bisa diharapkan berkontribusi maksimal. Karena kendala BPR yang dijaminkan kreditnya, masih terkendala pada NPL (Non Performing Loan) atau kredit macetnya yang masih tinggi. Sampai 20 persen.

Indra Manthica mengatakan, dengan keterbatasan modal yang dikelola, tetap tak ada alasan untuk tidak memberikan hasil yang maksimal kepada pemerintah daerah dan masyarakat NTB. Dengan struktur pengurus yang baru di direksi dan komisaris, Indra mengatakan tim terasa makin solid. Salah satu potensi yang diincarnya dari surety bond (penjaminan kredit konstruksi).

Stakeholdersnya diperkuat. Tetapi ia tetap berharap kepada pemerintah daerah dari tingkat provinsi dan kabupaten/kota juga ikut mendukung dengan mengingatkan para kontraktor untuk menjaminkan kreditnya di Jamkrida NTB.

“Semangat kita harus sama. Kita bisa memberikan kontribusi maksimal, bilamana dukungan pemerintah daerah juga maksimal. Kalau bisa kontraktor-kontraktor ini diingatkan, menjaminkan kreditnya di Jamkrida. Dengan begitu, potensi pasar kami yang hilang di Bank NTB Syariah bisa tertutupi,” ujarnya.

Selain itu, Indra Manthica juga memperkuat koordinasi dengan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) di bawah Kementerian Koperasi dan UKM RI. Kredit-kredit yang dicairkan untuk koperasi maupun UMKM, Jamkrida yang jaminkan. Sudah ada “lampu hijau” dari LPDB.

“Kalau semua berjalan sesuai rencana, kita bisa memberikan bahkan lebih dari target. Saat ini, kami telah mendapat keuntungan sebesar Rp 600-an juta. Kalaupun tidak bisa kita kembalikan pasar di Bank NTB Syariah dengan membentuk unit usaha syariah, kemungkinan mentok di Rp800 juta keuntungan tahun ini,” demikian Indra. (bul)