Dililit Utang, Keponakan Curi Emas Bibi

Mataram (Suara NTB) – Lalu AG (38) sedang dirundung utang. Namun bukan berarti warga Desa Kebon Orong, Kecamatan Kendiri itu diperbolehkan mencuri. Bahkan yang menjadi korban adalah bibinya sendiri.

Buruh bangunan itu diduga mencuri perhiasan senilai Rp 80 juta milik bibinya, Baiq Rohini pada Sabtu (18/3).

Iklan

Ia tak sendirian, ia mengajak kerabatnya yang lain, Lalu IS (30) beraksi di rumah bibinya itu di Jalan Kesehatan, Lingkungan Pajang, Kelurahan Mataram Timur, Kecamatan Mataram.

Kapolsek Mataram, Kompol Taufik menunjukkan barang bukti perhiasan emas senilai Rp 80 juta dari kasus pencurian dengan tersangka Lalu AG dan Lalu IS, Selasa (4/4) di ruang kerjanya.

“Modusnya mencongkel lemari di dalam kamar korban dan mengambil isinya,” kata Kapolsek Mataram, Kompol Taufik ditemui di ruang kerjanya, Selasa 4 Maret 2017.

Pada hari kejadian, sambung dia, korban sedang mengunjungi sanak famili di Lombok Timur. Para tersangka itu datang untuk menjaga rumah. Namun niat lain muncul mengetahui rumah dalam keadaan kosong.

Tersangka Lalu AG mengambil kemudian mengambil linggis. Langkah pertama, tersangka membobol pintu kamar korban. Berhasil masuk, giliran lemari dibobol.

“Di sana dia ketemu bros, mata kalung, anting, cincin, dan gelang. Semuanya itu bahannya dari emas,” sebut Taufik. Belum selesai membongkar isi lemari sekitar pukul 13.15 Wita, sang pemilik rumah pulang. Para tersangka kalut dan lekas mohon permisi pamit.

Gelagat tak beres dicium korban. Setelah dicek, ternyata kamar dan lemari tempat korban menyimpan perhiasan ludes. Kecurigaan mengarah ke kedua keponakannya itu.

Polsek Mataram langsung menerjunkan tim untuk melakukan pengejaran usai menerima pengaduan korban. “Tak sampai tiga jam para pelaku berhasil kita tangkap di rumahnya bersama barang bukti perhiasan diduga hasil mencuri,” ungkapnya.

Tersangka Lalu AG mengaku, dirinya mencuri karena dililit utang koperasi. Hingga jatuh tempo bulan lalu, tersangka tak sanggup menyetor. “Utang Rp 11 juta. Saya jaminkan BPKB motor saya,” ucap dia menyebut sambil menyebut nama salah satu koperasi di bilangan Pagutan, Sekarbela.

Akibat perbuatannya itu, ia semakin sulit menebus utangnya. Belum lagi harus menebus kesalahannya di balik jeruji besi. Tersangka masing-masing disangkakan pasal 363 KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal tujuu tahun. (why)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here