Dilarang Liburan ke Sembalun, Warga Mataram Keberatan

Aktivitas memetik stroberi di kawasan wisata Sembalun, Lombok Timur.(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Warga Kota Mataram keberatan adanya larangan liburan ke Sembalun yang diterapkan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Mestinya, protokol kesehatan Covid-19 diperketat saja tanpa memandang asal daerahnya.

Saat ini, destinasi wisata Sembalun terletak di Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun memang menjadi objek wisata favorit di akhir pekan.

Iklan
Ilustrasi aktivitas wisatawan di Kawasan Bukit Pergasingan Sembalun.(Suara NTB/dok)

Wisatawan domestik biasanya memadati Sembalun karena dapat menikmati udara segar usai menjalani rutinitas di kantor selama sepekan.

Bagi Ardi, warga Kota Mataram, pelarangan ini sangat tidak menguntungkan bagi pengunjung. “Sembalun itu objek wisata favorit bagi kami warga kota. Kalau kami dilarang berkunjung, saya keberatan,” tegasnya, Jumat, 3 Juli 2020.

Ardi bersama keluarga rutin menikmati sejuknya udara dan indahnya pemandangan di kaki Gunung Rinjani tersebut. Sejak tiga bulan wabah virus Corona melanda, ia memilih berdiam di rumah dan menjalani rutinitas di kantor.

Dia memahami bahwa Kota Mataram merupakan zona merah penyebaran Covid-19. Tetapi tidak boleh juga pemerintah melarang warga menikmati liburan. “Seharusnya biarkan siapa saja warga pergi berlibur asal disiplin terhadap protokol kesehatan,” katanya.

Masyarakat mulai jenuh berdiam diri di rumah. Pembatasan aktivitas ibadah,pusat perbelanjaan dibuka dan objek wisata secara bertahap mulai dilonggarkan. Menurutnya, tidak semua warga Mataram terpapar Covid-19. Artinya, pemda setempat harus terbuka.

Warga Mataram lainnya, Anto juga memprotes kebijakan tersebut. Larangan liburan ke Sembalun berpengaruh ke usaha perjalanan. Tamu dari luar mulai melirik objek wisata Sembalun untuk berlibur. “Kalau dilarang, banyak dampaknya,” ujarnya.

Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Lombok Timur mestinya memperketat kedisiplinan warga menjalani protokol kesehatan Covid-19. Artinya, wisatawan yang akan berlibur ke Sembalun dicek apakah menggunakan masker atau tidak. “Bukan berarti dicek KTP. Lalu orang disuruh pulang begitu saja,” kritiknya.

  Biaya Mahal, STR Dinilai Penghalang Dapat Pekerjaan

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs.I Nyoman Suandiasa dikonfirmasi sebelumnya, menghormati kebijakan tersebut. Menurutnya, sah – sah saja jika tujuannya mengantisipasi penyebaran virus. Pihaknya memahami psikologi masyarakat bahwa kasus penyebaran virus di Mataram tertinggi di NTB.

Namun demikian, Mataram sebagai ibukota provinsi tidak akan menerapkan pembatasan bagi siapapun yang hendak berkunjung. Pihaknya memahami hak asasi seseorang untuk mengakses ke daerah sepanjang masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Bukan berarti orang dari luar daerah kita tidak perbolehkan masuk. Sepanjang mengikuti protokol kesehatan tidak ada masalah,” katanya.

Dia menilai larangan berlibur ke destinasi wisata Sembalun dinilai tidak ada kaitannya dengan sentimen daerah. Kemungkinan pemda setempat menginginkan tidak terjadi penularan dari klaster baru.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram, dr. H. Lalu Herman Mahaputra justru menyesalkan larangan liburan tersebut. Menurutnya, Jakarta sebagai ibukota negara saja tidak menerapkan kebijakan tersebut, sepanjang orang yang masuk menunjukkan surat keterangan sehat atau hasil rapid test dari rumah sakit.

Semestinya, Pemda Lombok Timur terbuka saja sepanjang wisatawan mentaati protokol kesehatan. Seperti menggunakan masker. Menjalani pengecekan suhu tubuh. Dan, mencuci tangan menggunakan sabun.

“Jakarta saja sebagai ibukota negara ndak ketat banget. Saya kira selama mengikuti protokol kesehatan tidak masalah,” demikian kata dia. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here