Dilan Ditangkap Jual Ganja 1,8 Kg

Kabid Pemberantasan BNNP NTB I Made Ardana (paling kiri) menunjukkan tersangka dan barang bukti peredaran ganja 1,8 kg, Selasa, 24 November 2020. (Suara NTB/BNNP NTB)

Mataram (Suara NTB) – Modus lama penyelundupan ganja terungkap lagi. Pengiriman lewat jasa pengiriman paket kilat tujuan Lombok Timur langsung terendus BNN Provinsi NTB. Sebanyak 1,8 kg ganja gagal beredar. Tiga tersangka masing-masing bandar dan pengedar ditangkap.

Mereka antara lain WRH alias Dilan (41) warga Lendang Nangka, Masbagik, Lombok Timur serta NM (43) dan HM (35) warga Pancor, Selong, Lombok Timur. Dilan ditangkap lebih dulu di Jalan Raya Sikur, Masbagik, Lombok Timur. “WRH alias namanya Dilan ini ditangkap setelah mengambil paket di kantor ekspedisi. Paket itu isinya ganja yang dikirim dari Medan (Sumatera Utara),” ungkap Kabid Pemberantasan BNN Provinsi NTB Kombes Pol I Made Ardana, Selasa, 24 November 2020.

Paket tersebut disamarkan dengan isi pakaian pendakian gunung. Dikirim dari Medan dengan tujuan Selong, Lombok Timur atas nama Dilan. Paket itu berisi tiga bungkus besar ganja. Beratnya 1,8 kg. Meski ditangkap, paket diarahkan tetap ke tujuannya semula. Ardana mengatakan, Dilan lalu dibawa menuju parkiran salah satu toko serba ada di Jalan Raya Sikur, Desa Danger, Masbagik, Lombok Timur.

Dilan ini sudah janjian dengan NM untuk menyerahkan ganja 1 kg. “NM membeli ganja sebanyak yang dipesannya. Sudah dia siapkan uang Rp10,5 juta,” sebutnya.

Tidak lama berselang, tersangka HM pun tiba. HM ini memesan ganja ke Dilan sebanyak 500 gram. HM sudah sepakat membeli dengan harga Rp6 juta. Pada saat itu pula HM diborgol. Ketiganya lalu diamankan ke kantor BNNP NTB di Mataram. “Mereka ini pemain baru,” ucap Ardana.

Dari hasil interogasi, Dilan ini berkilah baru satu kali ini memesan ganja tersebut. modus paket kilat juga baru kali pertama dia pakai. Dalihnya seperti pengiriman barang hasil berbelanja online. “Dia mengaku membeli ganja yang 2 kg ini seharga Rp20 juta. Kalau dijual di Lombok ini untungnya bisa dua kali lipat,” imbuhnya. Dilan, sambung Ardana, bekerja sebagai pemandu wisata pendakian Rinjani lewat jalur Tetebatu, Lombok Timur. NM menutup dalih kegiatannya berjualan ganja dengan berdagang pakaian. Sementara HM menjadi agen penjualan.

“Meskipun dia ini pemandu wisata, tetapi tidak bisa kita katakan kalau dia ini menjual ganja ke warga negara asing. Mungkin saja dia menjual ke tamunya,” urai Ardana. Penggagalan peredaran ganja ini turut menyelematkan 3.600 orang dari penyalahgunaan narkotika. Tiga tersangka dijerat dengan pasal 114 ayat (2) atau pasal 111 ayat (2) UU RI No35/2009 tentang Narkotika. Ancamannya, paling berat hukuman mati atau penjara paling lama 20 tahun dan minimal lima tahun. Serta denda paling banyak Rp10 miliar. (why)