Dikpora Belum Terima Rekomendasi Puskesmas Soal Pembukaan Sekolah

Lukman. (Suara NTB/Jun)

Dompu (Suara NTB) – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Dompu, belum menerima rekomendasi puskesmas terkait data sekolah yang sudah memenuhi kriteria untuk melaksanakan KBM secara tatap muka. Karenanya, Senin 31 Agustus besok (hari ini) tidak boleh ada satuan pendidikan yang mengaktifkan kegiatan tersebut. Demikian tegas Sekertaris Dikpora Dompu, Lukman, SE., ketika dihubungi Suara NTB via telepon, Minggu, 30 Agustus 2020.

Ia menyampaikan, dalam rapat koordinasi yang digelar bersama Tim Gugus Tugas Covid-19 tingkat kabupaten beserta pimpinan tiap puskesmas di delapan kecamatan beberapa waktu lalu, memang KBM tatap muka dinilai sudah cukup ideal untuk diterapkan di wilayah ini. Namun demikian, sepanjang belum ada keputusan final dari Bupati berikut data sekolah yang diizinkan puskesmas, kegiatan tersebut tidak diperbolehkan bagi setiap satuan pendidikan tingkat SD/SMP sederajat. “Kita tunggu dulu rekomendasi dari puskesmas sebagai dasar usulan nanti untuk dikeluarkannya edaran KBM tatap muka oleh Bupati,” ungkapnya.

Iklan

Dalam penentuan sekolah yang direkomendasikan, terdapat tiga indikator penilaian utama, yakni memastikan siswa dan guru menggunakan masker, intens mencuci tangan serta mengatur jarak saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Kalaupun itu terpenuhi, lanjut Lukman, satuan pendidikan tidak bisa serta merta langsung menerapkan, tetapi harus menunggu keputusan pemangku kebijakan. “Karena sekarang belum ada yang masuk rekomendasinya, jadi tidak bisa untuk senin ini. Artinya masih dengan pola belajar dari rumah atau BDR,” jelasnya.

Jika melihat perkembangan kasus Covid-19 dan berdasarkan penilaian tim gugus tugas kabupaten, daerah ini berada diantara zona hijau dan kuning. Sehingga dirasa cukup ideal untuk memulai KBM secara tatap muka, tetapi dengan pola bergantian agar tidak terjadi kerumunan siswa.

Selain itu, pertimbangan penting lainnya yakni kegiatan BDR via daring maupun kunjungan langsung ke rumah siswa tidak pernah bisa maksimal. Sehingga potensial membuat anak hidup dalam kebodohan, apalagi dengan kurangnya partisipasi aktif orang tua dalam mendidik anak sewaktu berada di rumah. “Kalau memang mau membodohi anak silahkan saja seperti ini terus. Pilihan ini ada dampak positif dan negatif, tapi kalau kita serahkan seperti ini mau jadi apa anak-anak kita nanti, artinya lebih banyak dampak negatifnya,” pungkas dia. (jun)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional