Dikbud Dukung Praktik SMK secara Tatap Muka

H. Aidy Furqan. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB mendukung kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membolehkan praktik di SMK secara tatap muka di semua zona penyebaran Covid-19. Praktik di SMK penting untuk meningkatkan kompetensi siswa.

Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr. H. Aidy Furqan, S.Pd., M.Pd., dihubungi akhir pekan kemarin mengatakan, pihaknya menyetujui kebijakan tersebut agar kompetensi vokasi siswa tidak banyak tertinggal. Serta bisa menuntaskan kompetensi siswa tersebut.

Iklan

Aidy juga mengatakan, pihaknya sudah merencanakan praktik di SMK untuk mata pelajaran kompetensi keahlian secara tatap muka. Namun baru bisa dilakukan setelah fase transisi atau setelah tanggal 13 September. “Setelah 13 September baru boleh, di fase menuju kenormalan baru. Sedangkan di masa transisi kita optimalkan materi umum,” katanya.

Mendikbud, Nadiem Anwar Makarim dalam siaran persnya mengatakan, praktik dibolehkan dilaksanakan pada SMK di semua zona. Hal itu diputuskan dengan pertimbangan bahwa pembelajaran praktik adalah keahlian inti SMK. Pelaksanaan pembelajaran praktik mata pelajaran produktif bagi peserta didik SMK diperbolehkan  di semua zona dengan wajib menerapkan protokol kesehatan.

“Ini untuk menjaga kelulusan siswa. Siswa SMK juga harus memiliki keterampilan, yang hanya bisa dilaksanakan lewat praktik,” ujarnya, dikutip Suara NTB melalui siaran langsung YouTube Kemendikbud.

Kepala SMKN 5 Mataram, H. Istiqlal, S.Pd., MM., dihubungi Minggu, 9 Agustus 2020 mengatakan, kebijakan itu sudah melalui pertimbangan yang matang dari Kemendikbud. Pihaknya menunggu arahan teknis selanjutnya. Penerapan protokol kesehatan dan pembagian sif ketika siswa praktik juga sangat perlu diperhatikan. “Praktik SMK sangat penting karena ada beberapa hal yang tidak bisa lewat daring termasuk di dalamnya teknik dan kerjasama tim dalam sebuah proyek,” kata Istiqlal.

Sebelumnya, Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pembinaan SMK Dinas Dikbud NTB, Umar, S.Sos., MM., mengatakan, kebijakan Mendikbud itu tetap harus menunggu izin dari pemerintah daerah. Ia mengatakan, BDR fase I di tahun ajaran lalu dilaksanakan hanya untuk pelajaran normatif dan adaptif. Sedangkan, pembelajaran khusus untuk mata pelajaran produktif tidak banyak disentuh pihaknya. Ia menekankan untuk pelajaran produktif ada keharusan menghadirkan siswa ke sekolah. Sementara pandemi Covid-19 masih berlangsung.

“Karena untuk produktif harus siswa dihadirkan ke sekolah dalam rangka untuk pengenalan cara menggunakan alat, cara bagaimana pelaksanaan praktik yang semestinya dilakukan, itu tidak bisa dilaksanakan secara daring, harus dilaksanakan secara langsung di sekolah. Dengan cara seperti itu, kami perlu membuat pola pelaksanaannya,” jelas Umar. (ron)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here