Dijerat UU ITE, Aktivis Perempuan Sebut Nuril Korban Dugaan Pelecehan Oknum Kepala Sekolah

Mataram (suarantb.com) – Kasus dugaan pelanggaran UU ITE yang menjerat Baiq Nuril Maknun mendapat perhatian luas termasuk dari aktivis perempuan di NTB. Terlebih, penetapan tersangka terhadap Nuril merupakan suatu keanehan. Alih-alih menjadi korban Nuril justru ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan sekarang sudah duduk di kursi pesakitan.

Hal itu dikatakan Relawan Forum Peduli Perempuan dan Anak NTB, Maia Rahmayati saat ditemui suarantb.com Jumat, 5 Mei 2017. Menurut Maia, kasus ini tidak berdiri sendiri. Kuasa terstruktur ditengarai menjadi sebab dan akibat yang berkaitan.

Iklan

Nuril sebagai pegawai honorer TU sekolah sedangkan pelapor adalah kepala sekolah. Secara terang benderang terdapat tekanan dalam bekerja.

Bagi Maia, faktor sering dihubungi tidak hanya di tempat kerja menyebabkan kasus ini tidak berdiri sendiri. Menurutnya, ada ranah privat yang dilanggar karena Nuril dalam kapasitas sebagai ibu rumah tangga.

Maia menduga ada perasaan terganggu yang dialami Nuril. Ia menganggap Nuril merekam kejadian itu sebagai alat perlindungan untuk menjaga diri. Apalagi di masyarakat perempuan rentan terkena fitnah.

Perempuan sering menjadi korban walaupun sebenarnya tidak bersalah. Menurutnya, Nuril menyimpan rekaman itu karena sewaktu-waktu  bisa dijadikan alat bukti bahwa dia yang menjadi korban.

“Ini adalah langkah baik  yang bisa dilakukan perempuan. Karena itu bisa menjadi tameng agar tidak selalu dipersalahkan atas segala hal yang menimpa dia,” katanya.

Maia menyatakan secara batin dan psikis, cerita oknum kepala sekolah itu adalah kekerasan atau pelecehan. Selain itu, kata-kata yang disampaikan  tidak sopan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan.

Ia melihat selama ini, kekerasan lebih banyak dipahami sebagai kekerasan fisik seperti memukul. Padahal ucapan secara verbal juga termasuk pelecehan yang menyerang psikologis.

“Bahwa ada serangan psikologis yang dilakukan oleh oknum bersangkutan,” tambahnya.

Maia mengatakan  kejadian seperti ini bukan hal yang baru. Bukan hanya perempuan, anak juga rentan menjadi korban. Ia menegaskan sebenarnya persoalan itu menyangkut siapa menguasai apa. Karena kalau melihat struktur terdapat kekuasaan yang bermain. Bahkan parahnya, banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya menjadi korban. Ia menilai kasus ini sebagai kasus yang fatal.

Sejauh ini berdasarkan pengamatannya, persoalan seperti ini belum dianggap sebagai persoalan yang serius. Bahkan dalam kasus ini, Nuril malah dijadikan terdakwa. Menurut Maia, justru Nuril yang mendapatkan dampak buruk dari apa yang ingin dipertahankan.

Ia berharap pelaku pelecehan diberikan sanksi yang tegas. Sehingga menimbulkan efek jera. Tidak hanya sanksi hukum tetapi juga sanksi sosial. Ia menganggap mutasi bukanlah solusi. Mutasi tidak bisa memberikan efek jera. Ini adalah masalah kultur, psikologis yang tidak berdiri sendiri.

“Kalau belajar dari kasus ini juga yang terakhir infonya kan kita dengar pelaku malah promosi jabatan dan sebagainya,” bebernya.

Aktivis perempuan itu mengakui perhatian pemerintah sudah banyak. Namun masih belum menyentuh hal-hal yang serius. Orang jarang melihat bahwa ungkapan secara verbal dan kata-kata termasuk serangan terhadap psikologis.

Menurutnya pembelajaran dan sosialisasi perlu memperhatikan sisi-sisi psikologis. Apalagi saat ini banyak masyarakat yang belum menyadari terdapat korban pelecehan seksual dan abai dalam melindungi.

Ia menambahkan banyak yang perlu dibenahi dari cara pendekatan penanganan kasus pelecehan seksual. Apalagi saat ini kasus-kasus pelecehan dan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTB sudah cukup mengkhawatirkan.

Maia menyayangkan adanya penahanan terhadap Nuril. Selain sebagai perempuan, Nuril memiliki anak yang harus dididik. Dengan adanya penahanan, perhatian terhadap anak harus terputus.

Ia berharap adanya penangguhan penahanan selama  persidangan. Menurutnya pertimbangan kemanusiaan harus diperhatikan karena anaknya masih berusia 5 tahun. Anak tersebut harus dijaga psikologisnya.

“Karena ceritanya kan dia waktu pemanggilan polisi membawa anaknya ya ke kantor polisi. Dan coba,  ibunya harus ditahan,”ujarnya menyayangkan. (bur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here